ANTARA AYAH DAN ANAK LELAKINYA

21 Mar 2010

tiga-anak-laki2-lucu-dgn-dua-apel-merah-2010Saya seorang bapak, 38 tahun, PNS, mempunyai 3 anak, ingin mengkonsultasikan anak saya yang sulung, laki-laki , 17 tahun, klas II SMU yang sangat sukar diatur. Anak saya ini kecanduan game atau play-station sehingga sering mbolos sekolah. Tahun lalu ia terpaksa dikeluarkan oleh SMU nya karena tidak mau ikut ulangan-ulangan harian dan ujian kenaikan, lalu saya carikan SMU lain yang mau menerima dia karena katanya ia masih mau belajar.

Ternyata di SMU yang baru ini sama saja perilakunya, malah lebih parah. Sering tidak masuk sekolah, dan terlibat perkelahian antar sekolah meski hanya ikut-ikutan saja.. Ia tidak mempunyai catatan, tidak mengerjakan pekerjaan rumah sehingga sering dipanggil d dimaahi gurunya, tapi ia cuek-cuek saja. Guru Bimbingan Konseling sudah tidak digubris lagi, dan sekarang ia terancam untuk dikeluarkan dari sekolah lagi.

Ia pernah saya carikan guru privat untuk memberi les di rumah, tapi setiap kali gurunya dating ia malah pergi. Bila saya dan istri saya menegru dan memarahi, ia pergi dan menginap di rumah teman entah dimana. Saya sudah benar-benar pudding menghadapi anak saya ini. Bagaimana caranya mengatasinya dok? Masih adakah cara untuk mendidik anak macam ini? Trima kasih.

PEMBAHASAN
Anak usia Klas 2-3 SMA memang berada pada masa transisi. Boleh dikata ia sedang mengalami krisis identitas.Ia sedang mencar-cari jati dirinya. Mau jadi anak macam apa dia. Dorongan untuk menjadi anak yang baik, berprestasi, taat pada orang tua dan guru tentu saja ada seperti contoh-contoh yang dilihatnya pada kakak-kakak kelasnya.

Tapi dorongan bertindak yang semaunya sendiri, melanggar semua aturan, merusak dan sok jagoan, lebih kuat dan lebih mudah dikerjakan berdasar contoh-contoh di sekelilingnya. Ia goyah dan sangat rapuh. Akhirnya yang dipilih adalah yng buruk. Tak peduli dengan contoh-contoh baik yang sudah diberikan orang tua atau kakaknya, pakde nya dll.

Dengan keadaan krisis seperti itu yang dibutuhkan adalah rapport yang baik dengan anda, sebagai ayahnya. Tapi hampir semua bapak di kamar praktek saya mengatakan bahwa anak laki-lakinya tertutup sekali padanya. Hanya diam saja, tak mau terbuka pada bapaknya. Nah, saya sendiri memrlukan waktu setiap Minggu untuk pergi berdua dengan anak saya laki-laki yang bermasalah. Berdua saja tanpa adik-adiknya atau ibunya. Berdua untuk berbicara dari hati kehati, secara santai dan tidak saling mencurigai. Berbicara sebagai sahabat tanpa terganggu kehadiran orang lain.

Betapapun sulitnya, anak laki-laki itu akhirnya pasti akan terbuka juga mesti sedikit demi sedikit. Kita bisa menanyakan hal teman-temannya, kejengkelannya, kefrustasiannya, harapan-harapannya, tekanan batinnya, apa yang paling disukainya,.apa ketidaksetujuannya dengan sikap bapak ibunya, apa sesungguhnya yang ingin dilakukannya. Ini adalah eksplore untuk mencari nuclear feelingnya, atau akar permasalahannya sehingga ia harus berperilaku seperti itu.

Seorang anak juga masih mempunyai reptilian brain sebagai sisa pertumbuhan filogenetis otaknya. Bagian otak ini berfungsi survival, fungsi primitif untuk melindungi diri atau bertahan. Segala perilaku yang melanggar norma dan serba rusak itu adalah upaya untuk survival, melindungi diri dari ancaman-ancaman luar berupa aturan, disiplin hidup, tanggung jawab. Reptilian brain harus diimbangi dengan human brain yang manusiawi, bijaksana, penuh kasih sayang, menghormati sesama, dan bertanggung jawab secara pribadi. Ini hanya bisa terungkap bila seorang bapak berbicara empat mata dengan anak laki-lakinya di tempat yang sunyi terpisah dari semua orang.

Bila rapport yang baik telah terjadi, dan explore berjalan lancer, tercapailah basic trust. Kepercayaan dasar pada si anak bahwa bapaknya benar-benar bisa dipercaya, menerima dia seperti apa adanya, dan bersedia membantunya. Ini seperti yang saya kerjakan sebagai terapis pada pasien-pasien saya para pecandu heroin muda. Pembicaraan dan hubungan sudah bukan lagi antara bapak dan anak, guru dengan murid, atau dokter dengan pasien, tapi antar sahabat seperti teman lama dalam gang rahasia.

Kesepakatan yang dicapai adalah kesepakatan rahasia yang harus ditaati seperti dalam gang. Disinilah kita mulai menawarkan Visi hidup masa depan. Misalnya menjadi orang yang berguna bagi masyarakat dan bisa hidup mandiri. Mandiri artinya mempunyai pekerjaan dan berpenghasilan cukup untuk menghidupi diri dan keluarganya, membantu saudara-saudara yang membutuhkan dan orangtuanya. Bila anak sudah terbuka pikirannya pastilah Visi ideal ini akan diterimanya dengan senang hati karena itu untuk kepentingan masa depannya sendiri, bukan orang lain.

Untuk mencapai Visi ini diperlukan Misi yang terdiri atas 4 5 aitem yang sudah ditentukan bersama dan disepakati. Anak tak mungkin melanggar kesepakatan ini karena ini adalah kesepakatan dalam gang, bukan kesepakatan bapak-anak. Pada awalnya pasti akan gagal, karena dorongan kompulsif untuk melanggar aturan masih kuat, main game di jam sekolah misalnya. Atau membolos dan pergi gentayangan dengan teman-temannya.

Tak apa. Kegagalan ini adalah proses untuk kesembuhan. Si anak akan mencoba memperbaiki diri. Disinilah perlunya statemen positif diberikan. Kamu anak baik, pasti bisa berperilaku baik. Kamu anak cerdas, pasti bisa mengerjakan PR itu. Kamu tidak akan mbolos lagi. Kamu anak patuh, kamu bisa mengatur waktu main game, dll. Bukan sebaliknya, kamu anak goblog. Dasar anak bubrah. Tak ketulungan lagi.

Bila statemen-statemen positif yang diberikan, ide positif inilah yang akan menancap dan terprogram di otaknya. Bila statemen-statemen negative yang diberikan, hal negatiflah yang akan terprogram terus di otaknya. Inilah prinsip Mind-Sciences, otak bekerja menurut perintah yang diprogramkan.*****
(inukeswa.wordpress.com ; inuwicaksana.blogspot.com)


TAGS


-

Author

Follow Me