AKU INGIN PULANG (2)

17 Jul 2010

Tiga puluh tahun telah berlalu. Kini aku bekerja sebagai psikiater -sudah 19 tahun ini- di sebuah rumah sakit jiwa besar dan kuna peninggalan Belanda di tlatah Borobudur. Dengan adanya program Jamkesmas pemerintah, pasien-pasien psikotik jenis skizofrenia meningkat drastis jumlahnya yang bisa dilayani. Prevalensi gangguan ini yang semula 1 permil menjadi 1%.

Bukan karena jumlah penyakit yang muncul bertambah banyak, tapi karena yang semula tidak bisa mendapat pelayanan kesehatan jiwa, tak terdeteksi, dibiarkan menggelandang atau diam-diam dipasung, sekarang bisa mendapat perawatan dan pengobatan di RSJ-RSJ seluruh Indonesia.

Jumlah pasien di RSJ ku yang semula tak lebih dari 350 orang menjadi 800 dan bahkan lebih dari itu. Karena adanya instruksi Menkes dilarang menolak pasien miskin maka berapapun pasien-pasien jiwa yang datang harus kami terima dengan fasilitas Jamkesmas. Penambahan tempat tidur tak bisa mengejar penambahan jumlah pasien sehingga banyak dua tempat tidur dirapatkan di malam hari untuk tiga pasien. Atau pasien-pasien itu terpaksa tidur di kasur yang diletakkan dilantai.

Hampir 95% pasien-pasien skizofrenia ini adalah pasien Jamkesmas, alias gratis karena berasal dari keluarga miskin (Gakin). Tapi ternyata banyak pasien dari keluarga setengah mampu yang tiba-tiba menjadi miskin dan berusaha mendapat kartu Jamkesmas.

Tapi kuota pasien miskin yang berhak mendapat Jamkesmas sudah ditentukan dan tak cukup menampung mereka. Karena ditolak maka mereka beramai-ramai meminta Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Pasien-pasien dengan SKTM ini ternyata tidak bisa di klim ke pusat. Harus pemerintah daerah dari mana pasien itu berasal yang menanggungnya. Jadi Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda).

Padahal Pemda-Pemda itu sudah termehek-mehek menanggung RSUD-RSUD nya masing-masing. Jelas tidak ada yang sanggup menanggung warganya yang sakit jiwa berat yang harus dirawat di RSJ yang rumah sakit pusat.

Pasien-pasien SKTM inilah yang menambah mbludag pasien-pasien psikotik skizofrenia dari sosial ekonomi rendah yang masuk dirawat di RSJ. Untuk pasien SKTM dianjurkan bisa rawat jalan saja di Puskesmas masing-masing toh obatnya cukup tersedia disana dan bisa gratis. Atau di RSUD Kabupaten dengan membayar separo biaya dan yang separo ditanggung Pemda setempat. Ini cukup memadai.

Pasien-pasien Jamkesmas yang dirawat inap di RSJ Pusat dibiayai pemerintah 90 ribu sehari. Tepatnya, 2,7juta untuk satu bulan pertama, lalu 90 ribu perhari untuk 3 bulan berikutnya dan 45ribu perhari untuk 3 bulannya lagi. Sesudah itu pasien harus diambil pulang keluarganya. Jamkesmas menanggungnya hanya untuk 6 bulan pemondokan di RSJ.

Padahal keluarga yang sudah keenakan karena si pasien dirawat inap gratis jelas tak akan mengambilnya lagi. Bukankah sudah galibnya manusia untuk mencari enaknya sendiri?

Dengan alasan tak sanggup lagi merawatnya di rumah, pasien hanya mengganggu saja di rumah, pasien yang sudah baik kalau pulang ke rumah selalu kembali seperti dulu, keluarga tinggal ibunya yang sudah tua atau sakit-sakitan, orang-orang sekampung menolaknya, kalau di rumah pasien tak mau minum obat, maka keluarga yang sudah disurati lima kali dari RSJ untuk menengok dan mengambil pasien tak pernah datang juga.

Wajar bila setiap kali aku dating ke bangsal, pasien-pasien itu selalu mengerubutiku dengan teriakan :
Aku mau pulang! Aku ingin pulang! Kapan aku bisa pulang, pak dokter? Aku boleh pulang, pak dokter? Ini sudah mau Lebaran, aku ingin Lebaran di rumah, pak dokter? Pokoknya aku ingin pulang, Pak!
Baiklah, baiklah, nanti boleh pulang kalau keluargamu sudah datang menjemput ya? Dan kami sama-sama tahu bahwa sang keluarga tidak akan pernah datang menjemput. Wajar pula bila semua pasien selalu ingin melarikan diri dari RSJ. Tak seorangpun dari pasien-pasien gangguan jiwa berat ini yang merasa dirinya sakit, maka cita-cita mereka bukanlah sembuh tapi melarikan diri dari RSJ.

Seperti pagi itu. Bangsalku gempar. Wagiman lari!, Wagiman pergi!, Hee, Wagiman pulang, hiyee!, teriak para pasien. Wagiman adalah pasien pemuda asal Gunung Kidul Jogyakarta yang sudah setahun mondok di RSJ ini dan tak pernah ditengok keluarganya.

Wagiman sudah tenang, gejala-gejala patologisnya sudah tak ada. Boleh dibilang ia sudah sembuh secara sosial. Wajar bila Wagiman sangat ingin pulang ke rumahnya untuk bekerja lagi di kebun dan menggembala kambing. Tapi apa daya keluarga mungkin sudah terlanjur ngeri tak mau mengambil Wagiman lagi.

Ia dibiarkan di RSJ selamanya. Para perawat melapor padaku dengan wajah muram dan sedih tentang perginya Wagiman pagi itu dikala mereka sedang sibuk dengan pasien lain yang masih ngamukan.

Keesokan harinya aku, 16 perawat dan 34 pasien bangsalku yang semuanya laki-laki menyiapkan diri untuk berangkat terapi rekreasi sambil mengejar Wagiman. Ada laporan dari masyarakat bahwa baju seragam RSJ abu-abu di temukan di selokan di dekat gardu ronda di jalan menuju Ketep. Maka kamipun berangkat kesana memakai bis RSJ, ditambah sepeda-sepeda motor perawat dan mobilku.

Pagi itu hawa agak dingin dan lembab, tetes hujan rintik-rintik sisa semalam dan kabut tipis menyelimuti udara bagai wajah nenek tua yang bermuram durja karena kehilangan cucu kesayangannya.
Namun cuaca yang sendu tak mengurangi kegembiraan pasien-pasien kami yang bernyanyi-nyanyi dalam bis menuju bukit rekreasi Ketep Muntilan tempat orang bisa melihat pemandangan indah lereng selatan Merbabu dan lereng barat Merapi.

Tempat ini selalu ramai pengunjung yang ingin melihat kegiatan gunung Merapi sekaligus film tentang sejarah gunung ini di gedung pemutaran film dokumenter dinas pariwisata pemerintah.
Disepanjang jalan nampak tanaman sayuran dan buah-buahan menghijau serta persawahan beringkat-toingkat terhampar bagai permadani hijau bertelau-telau kuning dan coklat.

Ya, Wagiman pasti lewat sini. Dari Ketep ia akan berjalan ke Sela, lalu turun lewat hutan ke Klaten dan naik ke Gunung Kidul. Ia menghindari jalan besar dan tidak membawa uang sepeserpun. Benar benar The Great Escape yang cerdik, pikir kami. Bukti bahwa mentalnya sudah benar-benar sembuh. Ia pasti mengandalkan keramahan dan kebaikan hati penduduk pegunungan yang dilewatinya bila ia lapar dan butuh tempat berteduh.

Para pasien kegirangan berjingkrak melihat lereng Merapi dan Merbabu dengan keker yang kami sewakan. Seperti orang waras merekapun berfoto-fotoan bergaya dengan teman-temannya memakai kamera-kameraku di halaman puncak melingkar tempat melihat pemandangan itu.

Lalu turun ke gubug-gubug bawah berjalan disisi tebing sambil makan jagung bakar yang kami belikan. Sesudah itu antre untuk bersama-sama melihat film tentang kejadian Gunung Merapi dan kejadian waktu gunung itu meletus atau melelehkan lahar panas wedus gembel.

Selesai melihat film aku mengajak rombongan 34 pasien laki-laki skizofrenia dan 16 perawat jiwa itu berjalan ke utara. Melihat kebun strawberry di selang-seling kebun sayur-sayuran, buah-buahan dan jagung. Udara mendung dan berkabut cukup nyaman untuk berjalan-jalan mencari keringat. Aku berjalan jauh di depan dengan 6 pasien yang paling agresif beringas. Pemandangan kiri kanan sejauh mata memandang hanya tumbuh-tumbuhan dan kebun yang subur menghijau.

Kmudian tiba-tiba kulihat sosok aneh itu. Nun jauh disana di tengah padang strawberry nampak seorang wanita yang agak langsing tingg - meski tak selangsing gadis-gadis remaja - sedang berdiri tegak memetik buah strawberry dengan tiga gadis desa pembantunya disekitarnya.
Wanita itu tak muda lagi. Usianya sebaya denganku, diatas limapuluhan. Kulitnya putih kecoklatan terbakar matahari. Rambutnya disanggul di belakang dengan warna hitam yang sudah mulai nampak helai-helai memutih kecoklatan.

Wajahnya oval lancap dengan mata bulat besar mirip Citra Dewi dari film Tiga Dara tahun limapuluhan. Namun dibawah mata yang tampak letih itu kini ada sedikit kerutan mengantong karena usia.
Wanita itu mengenakan baju putih katun lengan panjang dengan kedua ujung lengannya diwingkis di bawah siku, dan bawahnya memakai celana jean biru lusuh yang agak ketat.dilipat ujungngnya di bawah lutut. Satu kancing baju atasnya dibuka menampakkan dadanya yang putih dengan kalung emas dan leontin batu akik yang berkilauan merah darah tua.

Ya Tuhan, Merah Delima! Ya, itu pasti Merah Delima batu akik cincin kesayanganku yang kuberikan dulu sebagai kenang-kenangan pada Sumiyati. Tapi apakah sosok itu si Sumiyati?

Sumi. Sumiyati. Mungkinkah itu dia? Mengapa ia tiba-tiba bagai jatuh dari langit di tengah padang strawberry di built Ketep ini? Aku tertegun, berdebar dan ternganga tak bisa berkata-kata. Ia pun terkaget-kaget melihatku seperti melihat gendruwo besar di siang bolong. Tapi matanya yang letih dan sayu mendadak bersinar-sinar bagai akiknya itu.

Kami berdiri tegak berhadap-hadapan dalam jarak 20 meter seperti koboi laki-laki dan wanita mau duel tembak. Otot-otot menegang dan napas tersengal-sengal.

Sementara keenam pasienku yang beringas itu berloncatan ke depan mendekati ketiga gadis remaja itu untuk sekedar berkenalan atau entah mau apa lagi. Ketiga gadis itu menjerit-jerit ketakutan dan bersembunyi di belakang wanita tuannya yang tegak diam bagai patung Dewi Kwan Im dari batu giok.

Dengan sekali tepuk tangan dan mengibaskan tanganku ke belakang keenam pasien berloncatan mundur dan berdiri disekitarku dengan sikap condong ke depan mirip harimau yang siap menerkam mangsanya.
Sum. Sumi……Sumiyati….kau….kaukah itu?kataku terbata-bata.
He, Nuk….Nunuk…….benar kaukah itu?….mengapa kau disini? , mulutnya yang mungil mulai bergetar. Di dunia ini tak ada orang yang memanggilku dengan panggilan masa kacil itu selain ibu bapakku, dan Sumi.

Aku melangkah maju dan Sumi pun maju menerjang. Kami harus berjuang sekuat tenaga untuk menekan hasrat berikutnya. Ya, adegan berikutnya adalah seperti Marsello Mastroiani yang berlari dari tepi bidang gambar film sebelah kiri dan Sophia Loren yang berlari dari tepi sebelah kanan yang kemudian bertabrakan di tengah-tengah padang bunga dan berpelukan sekuat tenaga sebelum bom ranjau Perang Dunia ke II meledak di tengah padang Sunflower itu yang melumatkan mereka berdua.
Ah, tentu kami tak ingin menjadfi Marsello dan Sophia Loren dari film legendaries jaman dulu Sunflower itu.
(BERSAMBUNG)

Portrait of a Lady - lukisan Basoeki Abdullah - repro Pictures of Indonesian Fine Art Auction, Jkt, Mart 2003

Portrait of a Lady - lukisan Basoeki Abdullah - repro Pictures of Indonesian Fine Art Auction, Jkt, Mart 2003


TAGS


-

Author

Follow Me