KESEMPURNAAN, “HARUS” DAN “SEHARUSNYA”

23 Jul 2010

Memang saya akui saya seorang perfeksionis, segala sesuatu harus sempurna bagi saya, demikian tulis saudara Al, seorang priya 37 tahun pada rubric kita ini. Ia keluar dari tempat kerjanya di satu perusahaan kayu lapis di Jakarta karena tidak cocok dengan situasi dan system kerja di kantornya yang acak-acakan, tidak ada aturan yang pasti dan target pencapaian tertentu.
Saudara Al pulang ke orang tuanya di Yogya, sedang istrinya yang minta cerai sementara pulang ke orangtuanya di Surakarta. Saudara Al tak mau menceraikan istrinya karena ia tak bisa hidup tanpa istrinya itu. Cuma mereka sering bertengkar karena Al punya tuntutan hidup yang tinggi, semuanya serba harus dan seharusnya sedang istrinya sebaliknya. Ingin hidup seadanya dan santai. Al juga tidak cocok dengan rekan-rekan kerjanya di Jakarta maupun teman-teman lamanya di Yogya yang hidup menurut pendapatnya tak karuan dan tanpa keharusan tertentu. ]
Al merasa dijauhi teman-temanya tapi baginya tak jadi soal karena ia ingin mencari lingkungan kerja yang sama dengan visi hidupnya, kesempurnaan dan keharusan mencapai kesempurnaan itu.

*******
Saya yakin bahwa saudara Al adalah orang yang cukup menderita dalam hidupnya akibat paradigma pikirnya sendiri. Segala sesuatu harus sempurna, dalam bekerja, hubungan interpersonal, hasil akhir, suasana kerja, adalah sesuatu yang ideal dan jelas baik. Sayapun dalam membuat tulisan-tulisan saya di rubric ini berusaha mati-matian untuk membuat yang sebaik-baiknya. Tapi kita tahu bahwa hidup ini sering tidak sempurna. Hidup ini sering tidak seperti yang kita harapkan. Kita sebaiknya bisa menerima hal itu bila kita tidak ingin frustasi sendiri.

Menginginkan segala sesuatu harus sempurna adalah sikap perfeksionis yang konotasinya sudah negative alias cenderung patologis. Orang perfeksionis cenderung untuk mengulang-ulang perbuatan yang bila tak terkendalikan bisa menjadi obsesif-kompulsif, suatu gangguan perilaku yang sukar diobati. Perfeksionis, selain sangat menghargai waktu, terburu-buru, cepat menyimpulkan dan mengambil keputusan, mempunayi achievement tinggi, adalah unsur dari Pola Perilaku Tipe A yang terbukti sangat erat kaitannya dengan hipertensi, serangan jantung dan stroke.

Saya harapkan saudara Al bisa mencermati kembali hidup dengan harus dan seharusnya serta sikap perfeksionisnya. Barangkali istri saudara Al juga tidak tahan karena disalahkan tiap hari dalam hal bekerja sebagai ibu rumah tangga, melayani suami, mengasuh dan mendidik dua anaknya. Tapi saudara Al tak mau menceraikan dia karena secara unconscious tahu bahwa ia tak bisa lagi mendapatkan wanita yang bisa serba menerima segala kelakuannya dan tuntutan-tuntutannya.

Orang yang menggunakan terlalu banyak harus dan seharusnya adalah orang yang sangat menuntut dan tidak menyenangkan. Ia membuat hidup tidak menyenangkan bagi diri sendiri maupun keluarga dan orang lain. Saya melihat banyak orang di ruang konsultasi yang menuntut dan bersikeras untuk hal-hal tertentu. Mereka biasanya mempunyai riwayat pekerjaan yang kurang baik, perceraian, tidak punya teman dan mempunyai banyak masalah dalam hidupnya sehari-hari.

Harus dan seharusnya dikenal sebagai pernyataan memaksa yang sering menciptakan kejengkelan, penyesalan dan rasa bersalah. Ketika seseorang bisa melepaskan tuntutan mereka, atau kelekatan terhadap tuntutan itu, hasil akhir yang lebih baik dan memuaskan sering kali malah terjadi.

Ubahlah kalimat keharusan ke kalimat permintaan atau pilihan. Misalnya berkata dengan keras kamu harus bekerja dengan waktu lebih banyak!. Anda dapat berkata dengan Saya harap kamu bisa menggunakan waktumu lebih banyak untuk bekerja. Atau Kamu tidak boleh merokok di ruangan ini!. Dan diubah menjadi Saya lebih suka bila kamu merokok di luar. Bisa kita lihat nanti bahwa semakin sedikit kata harus dan seharusnya kita gunakan, akan lebih baik manfaatnya bagi kita sendiri, istri atau suami, anggauta keluarga kita dan teman-teman kita.

Jelas bahwa bukan kata seharusnya yang menciptakan masalah, tetapi tuntutannya. Tidak ada yang salah dengan berkata Kau harus ingat untuk menulis resep dengan obat-obat generik jika kau ingin resep itu bisa terbeli oleh banyak pasien yang kurang mampu,. Ini adalah harus yang lembut. Berbeda dengan harus yang menuntut.

Dalam harus yang lembut ada kata jika yang diikuti dengan konsekuensi spesifik. Lebih bagus lagi, cobalah menyruh tanpa menggunakan kata harus sama sekali. Seperti Usahakan untuk belajar 2 jam sehari ada ulangan maupun tak ada ulangan.

Aturan-aturan pribadi yang berdampak besar bagi kehidupan ini pertama kali dikemukakan oleh psikiater termashur, Dr. Karen Horney yang menulis tentang Tirani Harus, sebuah tema yang kemudian dikembangkan oleh Dr. Albert Ellis di New York, yang mengeluarkan istilah shoulding (seharusnya) dan musturbating (keharusan) yang menekankan kekuatan merusak secara psikologis dari pernyataan pemaksaan seperti harus dan seharusnya.

Para ahli itu menyarankan agar kita berhenti mengatakan harus kepada orang lain dan diri kita sendiri dan sebanyak mungkin menghindari kata seharusnya.

Penggunaan kata harus dan seharusnya ini yang secara berlebihan kemungkinan besar menyebabkan istri saudara Al minta cerai dan Al terpaksa keluar dari tempat kerjanya, suatu perusahaan besar yang maju. Seorang pasien Dr Albert Ellis mengatakan di akhir sessi therapinya : Saya memutuskan untuk tidak lagi ikut campur dalam kehidupan orang lain. Saya membiarkan orang lain memutuskan apa yang seharusnya dan tidak seharusnya mereka lakukan,.****

pasien jiwa RSJM bermain jatilan dalam persiapan tujuhbelasan di halaman depan RSJM - dok.pribadi.

pasien jiwa RSJM bermain jatilan dalam persiapan tujuhbelasan di halaman depan RSJM - dok.pribadi.


TAGS


-

Author

Follow Me