OPTIMISME-SEMU

9 Aug 2010

Bila seluruh karyawan tidak tersalur aspirasinya, tidak pernah didengar keluh kesahnya, ketidakpuasan terhadap kebijakan manajerial sudah memuncak, dan wakli pimpinan perusahaan bidang produksi malah mengatakan everything is oke atau segala sesuatu akan baik-baik saja maka ini adalah sikap optimisme yang menenangkan tapi sekaligus membahayakan. Suatu optimisme-semu atau optimisme-non realistik. Saudara Ist, seorang pegawai yang cemas dengan situasi kantor perusahaannya yang seperti itu, telah menulis ke rubric kita ini.

Sebagai seorang bawahan tentu tak layak ia memberi nasehat pada atasanya, Wakil Direktur, yang tidak peka situasi tersebut. Tapi sebagai mitra kerja ia pasti juga kesulitan menyadarkan pejabat atasannya itu.

*******

Kebanyakan orang Amerika, dan kita sendiri, terbiasa dengan buku-buku Berpikir Positif dari Norman Vincent Peale. Ia membultikan enerji dari berpikir positif. Ini memang suatu nasehat motivasi yang benar-benar bagus dan bermanfaat. Bahkan Dr.Martin Seligman, peneliti piskologi dan Presiden Asosiasi Psikologi Amerika, telah menunjukkan bahwa optimisme adalah elemen kunci dalam kesehatan jiwa. Sebaliknya berpikir negatif cukup merusak atau merugikan kesehatan jiwa. Karena berpikir negatif terus menerus adalah gejala penyakit depresi yang melihat dunia ini serba gulita dan tak ada pengharapan lagi.

Saya mengamati bahwa dalam praktek kerja perkantoran, nasehat positive thingking Norman Vincent Peale itu menjadi mujarab bila dalam pelaksanaannya telah melewati dua tahap. Yang pertama adalah membuka mata telinga, mata hati, selebar-lebarnya untuk memahami dan menilai situasi dengan kepekaan yang tajam.

Dan kedua, segera bertindak menyusun strategi untuk mengantisipasi situasi yang telah memuncak. Barulah kemudian berpikir positif bahwa segaka sesuatunya akan baik-baik saja. Bila dua hal itu tidak dikerjakan dan orang hanya berpikir optimis terus maka itu adalah optimis-semu yang bisa memancing ledakan meski ledakannya tidak selalu demo yang meriah dan anarkis.

Ada perbedaan besar antara optimisme yang sehat (telah melalui dua tahap itu) dan berpikir psotif dengan optimisme-semu Positivisme semu menasehati kita untuk melihat sisi terang setiap saat. Hal ini seringkali mengarah pada ledakan dan menyebabkan kemarahan serta pengucilan dari orang lain.

Orang yang berpikir segala sesuatu akan baik-baik saja berarti memakai strategi pembiaran. Ia tidak hanya mengabaikan permasalahan sebenarnya dan inti persoalan yang perlu dicari, tetapi juga menghalangi orang lain untuk mengekspresikan rasa susah, sakit, frustasi, marah, kesepian atau rasa takut.

Dengan adanya orang yang selalu berpikir positif macam ini, sulit atau bahkan tidak mungkin bagi kita untuk mengekspresikan perasaan yang sebenarnya. Individu ini sering kali membuat orang lain merasa bersalah karena memiliki perasaan yang buruk.

Orang optimis yang realistis tidak bicara mengenai bagaimana indahnya segala hal, bagaimana hebatnya segala sesuatu, ketika mereka berhadapan dengan kejadian yang benar-benar buruk atau tidak menguntungkan.

Jika kita masih saja tersenyum di dapan bencana, tetapi kita bilang tidak apa-apa atau semuanya akan baik-baik saja, sering kali kita akan berakhir dengan menghadapi masalah yang lebih besar lagi. Masalah kecil, jika diabaikan, ditutupi atau disangkal, mempunyai kemungkinan untuk menyebar dan tumbuh menjadi masalah besar.

Dance-Girl, expo senirupa di Galery Putu Sutajaya, Bantul, Jogyakarta, 2009 - dok.pribadi

Dance-Girl, expo senirupa di Galery Putu Sutajaya, Bantul, Jogyakarta, 2009 - dok.pribadi

Perbedaan antara optimisme non-realistik dengan optimisme yang rasional dapat terlihat dslam dua pernyataan berbeda yang berikut ini. (1) Tidak perlu khawatir, semuanya akan baik-baik saja. Ini adalah optimisme yang semu. Pernyatan kedua merefleksikan optimisme yang realistis : (2) Kita benar-benar mengalami kekacauan, semuanya menjadi berantakan, namun, jika kita menghadapinya langkah demi langkah yang tepat, kemungkinan besar kita akan bisa mengatasi masalah ini dengan baik.

Jelaslah bahwa setiap menghadapi masalah atau gejala yang bagaimanapun kecilnya, dalam keluarga maupun dalam situasi perkantoran, kita harus melihatnya seobyektif dan secermat mungkin, karena gejala itu bisa jadi merupakan refleksi dari permasalahan yang lebih besar lagi. Kemudian kita harus berpikir masak-masak untuk mengambil langkah-langkah tindakan antisipasi, dan barulah kita bisa berpikir optimis dan positif seperti Norman Vincent Peale.

Seorang psikoterapis terkemuka, Lazarus, mengatakan bahwa dalam situasi tertentu, perubahan bisa saja tidak dapat dicapai, tapi penerimaan bukan optimisme akan mencegah depresi atau frustasi yang bertubi-tubi. Penerimaan inilah yang dalam tulisan De Yong Salah Satu Sikap Hidup Orang Jawa disebut Rila, Sabar dan Narima.****


TAGS


-

Author

Follow Me