Aku Ingin Pulang (seri 3)

17 Aug 2010

Baiklah. Kulanjutkan. Tiga Lingkaran Berimpit itu adalah pertama faktor neurobiologik, yaitu neurotransmiter. Suatu senyawa neurokimiawi otak di celah-celah sinaptik antara sel-sel neuron yang entah kenapa menjadi tak simbang kadarnya..

Lingkaran kedua adalah faktor psikoedukatif. Cara pengasuhan perkembangan mental sejak masa anak. Cara bagaimana anak melewati fase-fase oral, anal, genital dan laten. Apakah ia diasuh melewati fase-fase itu dengan baik atau terjadi fiksasi pada salah satu fase itu yang akan menetap menjadi modal gangguan pada usia dewasanya. Dekapan yang hangat, rabaan, kudangan, diajak bicara, pemberian kasih sayang yang cukup, perhatian, dan ditampilkan ke orang lain, merupakan hal-hal yang menentukan terjadi tidaknya skizofrenia di kelak kemudian hari.

Lingkaran ketiga adalah stressor-stressor kehidupan yang dialami sekarang. Seperti kehilangan obyek yang dicintai, kebangkrutan, dipecat dan kehilangan pekerjaan, dan sebagainya. Stressor yang bersifat tak terduga, bertubi-tubi, dan di luar kemampuan individu untuk mengatasi.

Ketiga lingkaran ini berimpit menjadi satu dan terjadilah gangguan jiwa berat dan khronik yang disebut psikotik jenis skizofrenia. Jadi syarat terjafdinya gangguan jiwa kelas mayor itu harus ada ketiga hal itu. Bila hanya stressor psikososial saja, tapi lingkaran kedua pengasuhan dan perkembangan mental anak baik, neurobiologik juga normal saja, skizofrenia tak akan terjadi. Atau lingkaran kedua buruk, tapi faktor ketiga tak begitu berat dan faktor pertama normal, gangguan itu juga biasanya tak akan timbul,.

Sumi memandang dan asyik mendengarkanku. Ekspresi wajah dan matanya mirip Sophia Loren yang memerankan ibu rumah tangga yang capai mengurus anak-anaknya tapi kesepian. Si Loren ketemu dan memandang Richard Burton yang bermain sebagai dokter pulmonologi yang asyik menjelaskan penyakit-penyakit paru. Di kantin sebuah stasiun kereta api yang sepi di Itali. Entah film bagus itu apa judulnya aku lupa.

Tiba-tiba tiga orang pasien meloncat mendekati mejaku. Ketawa cengingisan sambil menunjuk-nunjuk gorengan panas di dua piring itu. Bagianmu disana, kataku. Tapi ketiga pasien itu menggeleng. Makanan yang disana godogan semua, ia suka gorengan seperti sajian untukku itu. Dua perawat wanita serentak berlari dan menghardik pasien-pasien yang tidak sopan itu. Tapi aku memberi isyarat dengan mengangguk. Cepat kusodorkan dua piring itu yang disambar ketiganya yang cepat balik disambut meriah teman-temannya. Sumi kaget melihat itu dan hampir-hampir menjerit. Tapi melihatku tertawa-tawa senang, akhirnya dia menarik napas panjang dan memandangku lama.

Nampaknya kau dan perawat-perawat itu sangat menyayangi pasien-pasienmu itu ya Nuk.

Mereka orang-orang yang sudah ditolak oleh keluarganya, bahkan tetangga-tetanganya. Dianggap membahayakan, menyebabkan ketidaktentraman lingkungan, dan tidak berguna sama sekali. Mereka dibawa ke RSJ,ditinggalkan disana, untuk tidak mengatakan dibuang selamanya. Nah kalau bukan aku, teman-temanku psikiater dan psikolog, dan perawat-perawat jiwa itu, siapa lagi yang mau menyayangi mereka? Padahal bukan maunya mereka itu sakit jiwa. Kalau boleh memilih mereka itu pasti ingin hidup normal seperti manusia yang lain. Hanya karena suratan takdir mereka itu harus menjadi penyandang gangguan jiwa berat, skizofrenia..

Lalu bagaimanakah kau mengobati mereka? Bisakah mereka itu diobati?

Di jaman RSJ-RSJ peninggalan Belanda itu didirikan, pengobatan hanyalah Custodial Care, artinya penjagaan saja. Pasien-pasien skizofrenia ditampung dan dijaga selamanya di RSJ. Akibatnya menumpuk. Dua ribu orang di masing-masing RSJ. Tahun 1950 ditemukan klorpromazin, obat antipsikotik yang pertama yang bisa menekan gejala-gejala psikotik. Ini adalah tonggak sejarah kedua di dunia psikiatri. Tonggak sejarah pertama adalah dimunculkannya psikoanalisa oleh Sigmund Freud kurang lebih seabad yang lalu. Ini akan kubahas besok lain kali kalau aku datang kesini.

Lanjutkan…., kata Sumi tak sabar. Ia tahu aku menggodanya. Topik psikoanalisa bukan hanya milik psikiatri dan psikologi, tapi juga topik filsafat. Ia pasti penasaran untuk mendengarnya dariku. Apalagi Freud juga diakui dunia sebagai filsuf.

Karena faktor penyebabnya adalah Tiga Lingkaran Berimpit, maka terapinya juga ditujukan untuk menembak ketiga hal itu. Pertama adalah terapi psikofarmaka dengan obat-obat psikotropik. Untuk menyeimbangkan neurotransmitter yang kacau dicelah sinaptik neuron tersebut. Ini sangat pokok untuk kasus psikotik skizofrenia.

Setelah ditemukannya klorpromazine dan derivat-derivatnya yang lain, banyak pasien bisa dipulangkan ke masyarakat kembali. Hidup sebagai anggauta masyarakat yang mandiri dan berguna. Kini masing2 RSJ hanya merawat inap sekitar 200 sampai 400 pasien saja. Kecuali RSJ tempatku bekerja, sampai 800 orang.

Kedua, adalah psikoedukatif. Pasien-pasien skizofrenia itu dilatih bagaimana harus mengelola emosinya, bersikap pada orang lain, kembali ke alam realita, bertanggung jawab pada diri sendiri, menghargai orang lain yang mengurusnya, menjalankan Activity Daily Life (ADL) secara teratur seperti orang lain. Kemudian yang ketiga, mengantisipasi stressor-stressor kehidupan atau trauma psikis yang dialami. Mereka harus menerima dan berani menghadapi hal itu.

Tidak lagi lari ke dalam delusi-delusi dan halusinasinya. Tidak lagi lari ke alam autistiknya dan hidup disana dengan nyaman. Mereka harus bekerja. Apapun pekerjaan itu asal berguna bagi diri sendiri maupun lingkungannya. Tidak menyandarkan diri pada orang lain atau berpikir harus ada orang lain yang mengurus hidupnya.Mereka juga harus berhubungan sosial dengan orang lain secara baik sesuai fitrah manusia. Insan sosial.

Sumi terkagum-kagum memandangku mendengar program terapi yang cantik i9ni. Tapi pastilah banyak kendalanya. Maka program terapi yang lengkap itu tak jalan. Atau bagaimana. Buktinya masyarakat berpendapat gangguan macam itu tak bisa disembuhkan. Selalu kumat-kumat lagi sampai mereka ditolak oleh keluarganya sendiri. Contohnya si Wagiman itu.

Tak semua penyakit bisa disembuhkan tuntas. Kanker, diabetes, asma bronchiale, hipertensi essenstiel, dan HIV/AIDS. Demikian pula skizofrenia. Sampai saat ini ilmu kedokteran jiwa belum bisa menemukan obat yang secara permanen bisa menyeimbangkan neurotransmiter itu. Antipsikotik hanya bisa menekan saja dan karenanya harus diminum terus menerus jangka panjang untuk tidak mengatakan seumur hidup. Bisakah penderita diabetes atau hipertensi menghentikan obatnya? Dampaknya bisa fatal.

Beda dengan skizofrenia. Penghentian obat dampaknya tak begitu dirasakan oleh ODS. Tapi lingkungannyalah yang merasakan. Waham, halusinasi, agresivitas, tingkah laku aneh segera muncul kembali tanpa disadari ODS sendiri. Apalagi ODS memang tidak pernah merasa sakit atau terganggu sejak semula.

Nah, ia menghentikan obatnya sendiri, karena sudah merasa baikan atau sudah bosan. Selain itu juga kontrol tiap bulan membutuhkan biaya. Padahal skizofrenia banyak muncul di kalangan sosial ekonomi rendah di pedesaan. Untuk transport yang jauh ke RSJ, biaya priksa dan obat untuk sebulan, meski generik, masih dirasa terlampau berat.

Alasan sosial ekonomi menjadi kendala utama. Pengobatanpun terputus sepulang ODS dari RSJ, dan gejala akan kambuh lagi. Bila berkali-kali kambuh dan keluarga sudah benar-benar kehabisan dana, maka ODS akan dipasung atau dibiarkan menggelandang, kataku.

Tapi pastilah ada bantuan dari pemerintah untuk pasien-pasien miskin itu kata Sumi dengan ekspresi sedih mendengar ceritaku.

Sebelum tahun 2005 pemerintah telah mengharuskan 10% dari tempat tidur RSU dan sepertiga jumlah tempat tidur RSJ untuk pasien-pasien kurang mampu. Biaya untuk kamar, makan, dan obat, untuk pasien-pasien miskin pada sepertiga tempat tidur ini ditanggung pemerintah dalam anggaran rutin subsidi RSJ. Jadi berapa tahunpun mereka akan mondok, sudah dibiayai. Hanya disini, RSJ tidak mendapat pendapatan dari pasien.

Tapi sepertiga kapasitas RSJ ini ternyata jauh dari mencukupi untuk ODS kurang mampu di masyarakat. Untuk pasien rawat jalan, bantuan biaya ini tidak ada. Jadi berobat ke RSJ tetap merupakan momok mengerikan bagi keluarga miskin.

Tahun 2005 mulai ada progran kompensasi dana BBM yang disebut Jaringan Pengaman Sosial (JPS). Nah RSJ-RSJ mendapat tambahan dana khusus untuk pasien-pasien miskin ini, masing-masing antara 200 sd 500 juta setahun. Ini untuk rawat jalan maupun rawat inap. Tahun 2006 progam JPS diperbaiki menjadi Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas).

Masing2 pasien miskin mendapat kartu Jamkesmas yang ditentukan suatu panitia. Pengucuran dana secara klim sejumlah mana pasien itu mondok atau biaya periksa dan obat sebulan untuk rawat jalan. Pendapatan RSJ pun meningkat tinggi dengan Jamkesmas ini dan terpaksa menambah kapasitas karena dilarang pemerintah untuk menolak pasien miskin yang membawa kartu Jamkesmas itu. Ini terjadi juga untuk pasien2 penyakit fisik di RSUD-RSUD Kabupaten.

Nah masalah hebatpun timbul. Setelah ada program Jamkesmas ini, yangt bisa menanggung pasien berapa jutapun ia butuhkan untuk berobat, mendadak muncul keluarga2 kurang mampu yang banyak sekali jumlahnya merata di seluruh Indonesia. Padahal kuota pemerintah untuk pasien2 Jamkesmas sangat terbatas untuk tiap2 Kabupaten. Oleh kalurahan mereka ini dibuatkan Surat Kterangan Tidak Mampu (SKTM) yang tentu saja tidak dijamin pemerintah.

Protes-protes, tuntutan, komplain dari masyarakat dan LSM muncul mengarubiru RS. RSUD kemudian menawar cost sharing atau bayar separo, yang separo dimintakan Pemda kabupaten, kalau bisa. Pemerintah pusatpun dengan cerdik melimpahkan bantuan dana ini pada Pemda masing2, dengan nama Jamkesda. Sekarang tergantung Pemda masing2, sanggupkah memberikan bantuan untuk pasien-pasien SKTM di RSUDnya masing2.

Kulihat kemampuan Pemda-Pemda itu tidak sama untuk masing2 kabupaten. Ada yang mampu memberikan 1M pertahun, ada yang kurang dari itu, ada yang lebih.kataku sambil menyeruput kopi hitam klothok Secang kesukaanku. Sedikit saja tak apalah, toh aku sudah minum antihipertensi. Jelas aku tak memberitahu Sumi kalau kopi itu terlarang bagiku. (BERSAMBUNG).


TAGS


-

Author

Follow Me