ANDA INGIN MENGENDALIKAN KEMARAHAN?

3 Sep 2010

Kemarahan adalah satu jenis emossi manusia yang tergolong wajar, alias alamiah. Sebagai reaksi psikologis terhadap frustasi, kekecewaan, tersinggung atau merasa terhina, diejek dan dilecehkan, tidak dihargai. Tapi bila emosi alamiah ini berlebihan, tak terkendali, dan mengancam orang lain, akan merugikan diri sendiri.

Seperti putra ibu Nk, priya berusia 32 tahun, lulusan D3 yang belum dapat pekerjaan. Mungkin karena malu, atau frustasi ditolak di sana sini, ia jadi pemarah dan mudah tersinggung. Sampai akhir-akhir ini ia dijauhi teman-temannya dan membikin tertekan keluarganya sendiri.

Putra ibu Nk ini sudah dua kali dibawa ke RSJ setempat, karena seluruh anggauta keluarganya, bahkan tetangga-tetangganya merasa terancam berhubung marahnya sambil membanting barang-barang dan membawa senjata tajam. Tak berapa lama di RSJ ia sudah dipulangkan dan harus minum obat ssekali sehari untuk menekan kemarahannya. Ibu Nk menulis ke rubrik kita ini untuk meminta saran bagi putranya yang masih sering marah ini. Tidak perlu malu, akan lebih baik bila putra ibu Nk itu membaca sendiri tulisan ini.

*************

Tahukah anda bahwa sebagian besar orang dibawa ke RSJ bukan karena perilaku dan bicaranya yang aneh-aneh tapi karena kemarahan yang menakutkan lingkungannya? Kemarahan ini biasanya dengan membanting barang-barang atau mengancam orang-orang disekitarnya. Itulah sebabnya di unit gawat darurat psikiatrik RSJ selalu lebih banyak laki-laki yang dibawa masuk daripada wanita. Bukan karena insidensi gangguan jiwa lebih banyak pada laki-laki dibanding wanita, tapi karena orang laki-laki bila marah hebat lebih sukar diatasi daripada kaum wanita.

Marah atau kemarahan bisa meupakan suatu simtom (gejala) dari satu jenis gangguan jiwa, seperti misalnya skizofrenia, psikosis akut, depresi agitasi, gangguan paranoid, atau gangguan bipolar. Tapi bisa pula hanya berujud kemarahan saja, satu sifat atau karakter dari kepribadian. Bila bukan simtom dari salah satu jenis gangguan jiwa itu, biasanya individu akan dipulangkan dari RSJ setelah mondok beberapa hari, dengan nasehat-nasehat dan latihan untuk mengendalikan kemarahannya senddiri, berikut beberapa obat untuk membantunya menekan kemarahannya.

Kemarahan luar biasa selalu berkaitan dengan meningkatnya hormon adrenalin dalam darah, yang berkaitan pula dengan serangan jantung atau stroke. Banyak orang mengalami serangan jantung, tersumbatnya aliran darah ke jantung, sehabis marah-marah yang luar biasa.

Kemarahan merupakan emosi yang paling menghancurkan dan lebih merusak daripada depresi, rasa bersalah atau kecemasan. Banyak penelitian menunjukkan rusaknya kesehatan fisik dan mental seseorang akibat kemarahan hebat yang terus menerus. Tapi dari mana sesungguhnya kemarahan itu bersal? Mengapa pada dua individu yang sama-sama dihina dan dibikin frustasi tidak sama kemarahannya? Ini karena kita menciptakan kemarahan sendiri dengan menempatkan tuntutan pada diri sendiri dan orang lain.

Kemarahan timbul akibat dari pikiran harus dan seharusnya. Kemarahan selalu mengaitkan kata seharusnya. Andaikata kita membuang kata harus dan seharusnya dan menggantinya dengan saya harap…. mungkin kita bisa hidup lebih santai, tenang dan bahagia.

Ada orang-orang tertentu yang tidak bisa meelewati satu haripun tanpa rasa marah. Rasa marah ini sesungguhnya dapat diekspresikan dengan baik atau disimpan dalam hati. Rasa marah dapat dikendalikan atau menjadi tak terkendali. Perasaan ini dapat bertahan lama atau dapat segeera diatasi.

Sering kali, ekspresi marah diikuti dengan penarikan diri dari orang lain. Orang yang mudah marah seering kali memiliki konsep diri yang negatif dan tidak mudah menerima diri sendiri. Kemarahan berada di belakang kondisi konflik antar pribadi, kegagalan karier, perselisihan rumah tangga maupun perselisihan di tempat pekerjaan. Hal ini dapat meningkat ke arah permusuhan, perang, perusakan, dan bahkan pembunuhan. Kemarahan yang ditekan dapat menyebabkan gangguan medis, sebaliknya yang dikeluarkan tanpa kendali bisa menyebabkan gangguan medis pula.

Jadi penting kita menentukan bagaimana kita mengekspresikan kemarahan itu. Orang mengekspresikan kemarahan secara berbeda-beda. Beberapa orang mendongkol, yang lain berteriak-teriak, melotot, menyindir, sarkastik, mendiamkan dan menarik diri.

Para terapis di negeri barat dulu menganjurkan kliennya untuk melampiaskan kemarahannya dengan memukuli karung goni berisi pasir seperti latihan petinju. Tapi hal ini sering kali menyulut kemarahan menjadi lebih besar lagi. Saya menganjurkan pelampiasan kemarahan ini dengan olah raga. Memukul bola tenis, berlari kencang atau menendang bola yang memantul ke dinding sekeras-kerasnya berulang kali. Atau, menarik napas panjang berulang kali yang dilanjutkan meditasi tiga menit dengan mengalihkan pikiran dari topik kemarahan tersebut.

Kemarahan tidak sama ddengan agresi. Karena kemarahan adalah kondisi emosional sedang agresi adalah perilaku. Agresi meliputi maksud untuk dengan sengaja melukai, mencederai, menyakiti atau mencelakan orang lain. Menghancurkan suatu obyek. Para perawat jiwa di RSJ menyebut hal ini PK atau perilaku kekerasan. Tapi jelas semua PK ini pasti dilandasi suatu kemarahan bukan?

repro kover buku "Petruk Jadi Guru" karya Sindhunata, penerbit Kompas, 2009 - dok.pribadiProgram pengurangan kemarahan atau menetralisir perilaku kekerasan itu bisa meliputi : (1) menaikkan tingkat kebahagiaan secara keseluruhan; (2) menarik dan menghembuskan nafas dalam-dalam yang diikuti rileks, rileks, rileks sepenuhnya; (3) belajar untuk membiarkan pemicu amarah yang tidak penting; (4) belajar untuk mengekspresikan kemarahan dengan cara yang asertif bukan agresif. Perilaku asertif berarti anda bisa menyampaikan maksud hati anda tanpa melukai dan menyakiti orang lain. Dan semakin anda bisa mengendalikan kemarahan anda, semakin bahagia anda maupun orang-orang disekitar anda atau siapapun yang berhubungan dengan anda.****


TAGS


-

Author

Follow Me