HARI KESWA SEDUNIA: INDONESIA BEBAS PASUNG 2010!

10 Oct 2010

Hari Kesehatan Jiwa Sedunia tahun ini, yaitu besuk 10 Oktober 2010, akan diperingati secara meriah dan agak besar-besaran di Jakarta. Pawai, karnaval disekitar Monas, diskusi dan seminar-seminar, pameran senirupa karya penderita gangguan mental. Masing-masing RSJ di daerah mengirimkan kontingennya ke Jakarta. Dari tempat saya bekerja, RSJ Magelang, berangkat rombongan pasien yang akan main jathilan kebanggaan kami, dengan para perawat dan petugas RSJ sebanyak tiga bis yang berangkat sore ini, 9 Oktober.

Saya merenung di bangsal UPI sehabis meng-ECT 12 pasien (terapi kejang listrik), dan membuka lemari penyimpan file-file kuno saya. Ya, masih ada, dokumen tentang HKJS itu, kertasnya sudah menguning, terdiri atas 8 lembar. Surat pimpinan WFMH, logo, alamat-alamat sekretariat di seluruh dunia, daftar orang-orang besar yang menyandang gangguan mental, dan kriteria sehat mental. Surat dari ketua tertinggi WFMH itu sebagai berikut:

Dear Friends,
We are pleased to be back with you again anda to present you with the attached packet of materials for your use in planning for the third observance of World Mental Health Day.
The past two years have shown that the day is an effective means for bringing public awareness to mental health issues in your community and around the globe.
World Mental Health Day will be observed on Monday, 10 October 1994. The theme for the day will be Improving the Quality of Mental Health Care Throughout the World.
Etc,etc………….World Federation for Mental Health, Rosalynn Carter (Honorary Chair, World Mental Health Day).

Ya, Ny.Rosalynn Carter yang hebat itu adalah Ketua WFMH yang mencetuskan WMH dan mengirim surat ajakan ini ke para pemimpin negara-negara di dunia.
Dokumen asli surat ini diterima Depkes RI dan copinya dikirim ke direktur-direktur RSJ, di Magelang adalah dr Nanang A.Parwoto, SpKJ waktu itu. Beliau menyruh saya untuk meng-copinya lagi dan menyimpannya di arsip saya sendiri sebagai serep.

Di Indonesia, ajakan bersemangat ini diolah, dan pada tahun 1996 Presiden Suharto mencanangkan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia itu disini. Pidato pencanangan presiden yang menyatakan tiga dari sepuluh pasien yang datang di Puskesmas menderita gangguan jiwa sempat membikin geger republik ini. Persepsi masyarakat umum dengan gangguan jiwa adalah edan atau gila bila cukup mengerikan bila pasien Puskesmas sehari seratus berarti ada tigapuluh orang gila datang ke Puskesmas. Yang dimaksud presiden dengan gangguan jiwa itu tentunya gangguan cemas menyeluruh, psikosomatik, gangguan penyesuaian, somatisasi, dan depresi ringan yang memang prevalensinya 10-30% dari pasien-pasien umum. Dan teks pidato presiden itu bisa saya tebak yang membuat para psikiater senior yang bekerja di Ditkeswa Depkes RI waktu itu.

Setelah pencanangan nampaknya masyarakat masih tenang-tenang saja dan belum begitu mudeng arti kepentingan hari peringatan ini. Seorang rekan saya, wartawan senior di Kompas meminta saya menulis tentang hari peringatan itu. Dan selama tiga tahun berturut-turut setiap 10 Oktober saya menulis untuk harian Kompas dan KR di Yogya. Sekarang ini saya telah tua, jamannya cybermedia, maka saya tak lagi menulis di harian umum, lebih senang menulis di Blog saya sendiri. Di Kompasiana.com, Detik.com, atau di My Notes Facebook. Rasanya lebih bebas, spontan dan segar, kreatif, tanpa beban dan bisa bertanggungjawab sendiri seakan berbicara dengan orang lain yang saya cintai.

Dari rekan-rekan di Depkes Jakarta saya dengar tema HKJS untuk Indonesia tahun ini adalah Indonesia Bebas Pasung 2010. Sebuah tema yang berani dan menantang, di saat akhir tahun 2009 kemarin banyak penderita gangguan jiwa berat yang sangat miskin tidak mempunyai atau tidak diberi kartu Jamkesmas atau kehabisan kartu sehingga korban-korban pasung mulai bermunculan lagi di pelosok-pelosok pedesaan yang merupakan sarang-sarang kemiskinan di negara kita. Tapi negara kita memang berhak mengajukan tema itu karena telah melancarkan program Jaringan Pengaman Sosial atau Jamkesmas secara besar-besaran dan nyata sejak tahun 2005.

*************

Lamunan saya tentang HKJS tahun ini terputus oleh ingatan satu peristiwa menyeramkan beberapa minggu lalu. Tiga hari menjelang Lebaran, dalam perjalanan pulang dari RSJ Magelang ke Yogya, sebuah sms masuk ke Hp saya. Bunyinya : Saya minta maaf sebelumnya dokter, saya adik dari Wakidi yang dirawat di RSJM di bangsal dokter asal kabupaten K. Saya minta Wakidi disuntik pakai obat yang mematikan saja soalnya dia itu sangat berbahaya kalau dibawa pulang. Semua tetangga juga sudah nggak mau terima dia lagi karena kejadian kemarin hampir membunuh ibunya sendiri. Saya harap dokter memaklumi. Berapapun biayanya saya bayar. Saya tidak akan menuntut siapapun. Saya udah nggak ada jalan lain dok.Saya ikhlas dok, kehilangan satu orang daripada banyak korban berjatuhan.

Meski sudah lebih dari 8 kali selama 17 tahun saya bekerja di RSJ peninggalan Belanda ini menerima permintaan serupa baik secara lisan maupun telpon, tapi di era Jamkesmas ini menerima hal seperti itu saya merinding juga. Segera saya memforward sms maut itu pada perawat-perawat jiwa di bangsal saya. Esok paginya, ketika saya datang di bangsal, 16 perawat sudah berkumpul untuk rapat dengan wajah sedih.

Wakidi (bukan nama sebenarnya) sudah kami rawat sebaik-baiknya, dimandikan, dilatih gerak badan dan jalan-jalan pagi, lalu terapi aktivitas kelompok, dilatih kerja, dilatih mengendalikan emosinya, diberi obat dan askep (asuhan keperawatan) untuk menghilangkan waham dan halusinasinya, tapi mengapa keluarga malah ingin mematikan dia?

Kalau si adik kami balas dengan sms,percumah. Dia tak kan membalas dan datang menengok. Satu-satunya jalan adalah menyurati ibunya, diminta datang dengan janji tak akan ditemukan dulu dengan anaknya dan belum akan dipulangkan. Ibu dan adiknya harus mendapat pendkes(pendidikan kesehatan) cara bagaimana harus menghadapi Wakidi di rumah. Keluarga harus mendorongnya melakukan kegiatan, mengawasinya minum obat, dan mengantarnya kontrol bila obat habis.

Bila jauh ke RSJ, bisa ke Puskesmas terdekat. Sekaligus diberikan surat pengantar kontrol dengan obat-obat antipsikotik yang harus ddiberikan supaya dokter Puskesmas yakin dalam memberikan obatnya. Kebetulan Wakidi mempunyai kartu Jamkesmas sehingga dimanapun dia berobat akan gratis dengan obatnya. Kami juga akan menghubungi petugas Keswamas RSJ untuk ikut membantu memberikan penjelasan pada keluarga dan mengunjunginya di rumah bila Wakidi sudah dipulangkan. Program Tri Upaya Bina Jiwa RSJ harus dimainkan. Wakidi bukan monster yang harus ditakuti. Ia insan yang menderita yang perlu dirawat, diberi perhatian dan kasih sayang.

Bagaimana seandainya si Wakidi di droping (diantar pulang oleh dua perawat setelah mondok lebih dari 6 bulan dan keluarga tak mau ngambil) pulang hidup-hidup tanpa upaya-upaya terarah pada keluarga dan lingkungan diatas? Keluarga dan lingkungan akan ketakutan, jengkel, capek dan bosan menghadapi dia dan mengusirnya pergi menggelandang, atau ………memasungnya!

Kedua kakinya dirantai, atau dijepit dalam kayu potongan pohon besar sehingga ia tak bisa bergerak atau berdiri, di dalam sebuah gubug kecil setinggi 75cm yang hanya cukup untuk duduk atau telentang, didekat kandang kambing atau ayam di belakang rumah. Sepiring nasi disorongkan didekatnya tiap hari, hanya sekali-sekali bila ingat keluarga menyiramnya dengan air, dibiarkan kehujanan dan kedinginan sendirian.

Bisa juga ia dikurung di kamar belakang dengan kaki dirantai ketiang atau ke dinding. Pasung adalah penyelesaian yang paling realistis yang lebih baik daripada membunuhnya bagi masyarakat miskin yang sudah kuwalahan menghadapi keluarganya yang menderita skizofrenia khronik. Meski jelas ini melanggar hak-hak azasi penderita untuk mendapatkan pelayanan kesehatan jiwa, tapi penderitapun merampas hak-hak azasi keluarga dan masyarakat disekitarnya, yaitu ketenteraman hidup dan rasa aman.

***********

Tahun 2004-2005 ketika program kompensasi BBM berujud JPS atau Jamkesmas muncul, suatu gebrakan besar-besaran di dunia pelayanan kesehatan bagi keluarga miskin atau setengah miskin terjadi. Termasuk bagi para korban pasung dan gelandangan psikotik (defect skizofrenia).Korban-korban pasung dilepas dibawa ke RSJ oleh kelurahan /masyarakat dibantu Puskesmas, dan penggarukan gelandangan oleh Dinas Sosial masing-masing Kabupaten meningkat drastis untuk dibawa ke RSJ.

Dalam perkembangannya, Jamkesmas tidak bisa menanggung mereka yang dirawat bertahun-tahun. Dibatasi 6 bulan saja untuk gangguan jiwa dan 10 hari untuk penyakit fisik. Bulan pertama pasien gangguan jiwa bisa di klim 2,7 juta, tiga bulan kemudian 90 ribu perhari, tiga bulan berikutnya 45 ribu perhari, selesai. Pasien harus di droping pulang atau Dinsos harus dipanggil berulangkali untuk mengambilnya bila tidak RSJ akan termehek-mehek untuk menanggungnya selamanya.

Timbul persoalan kemudian. Pasien dari keluarga miskin atau setengah miskin meningkat drastis dari semua wilayah negara kita yang semuanya menuntut kartu Jamkesmas. Ternyata kuota Jamkesmas untuk masing-masing kabupaten sangat terbatas. Dugaan saya panitia Jamkesmas tiap-tiap kabupaten juga lebih memperhatikan pasien-pasien penyakit fisik yang parah dan miskin daripada pasien gangguan jiwa yang kelihatan segar bugar fisiknya karena memang hanya jiwanya yang runtuh tak karuan.

Munculah pasien-pasien gangguan jiwa dari keluarga miskin yang datang berobat dan tidak mempunyai kartu Jamkesmas selain kartu SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) yang dibuat kelurahan secara dadakan. Pasien dengan kartu SKTM ini terpaksa harus bayar penuh atau separuh. Yang separuh ditanggung Jaminan Kesehatan Daerah Pemda Kabupaten, bila sanggup. Dan Pemda masing-masing Kabupaten sudah termehek-mehek menanggung pasien penyakit fisik tidak mampu di RSUD nya sendiri.

Jelas tidak mampu kalau Pemda setempat diminta menanggung pasien gangguan jiwa di RSJ yang butuh perawatan jangka panjang. Maka banyak pasien jiwa dengan SKTM tidak dikontrolkan lagi, atau tidak dipondokkan lagi bila kumat. Inilah peersoalan rumit Jamkesmas yang hanya diketahui pihak-pihak di daerah yang terlibat dalam pelayanan kesehatan jiwa, seperti RSJ, RSUD Kabupaten, Kelurahan/Kecamatan, Puskesmas, keluarga penderita dan Dinas Sosial.

Orang-orang di tingkat pusat (Jakarta) belum tentu tahu permasalahan ruwet pelaksanaan bantuan untuk pelayanan kesehatan bagi keluarga miskin di daerah-daerah ini. Contohnya, ada aturan etika bahwa RSJ tidak boleh mengeluarkan pasien jiwa ke jalan-jalan kecuali diambil oleh pihak penanggungjawab yang memasukkannya ke RSJ. Kalau yang memasukkan Polisi karena gelandangan psikotik itu mengamuk di jalan atau ketabrak truk?

Dinas sosial akan sulit ddiminta mengambil bila ia sudah sembuh sosial karena merasa pihaknya bukan yang memasukkan. Padahal keluarga jelas tak karuan ada dimana dan si gelandangan bahkan namanya tak ingat lagi. Lalu diapakan si Robert De Niro itu? Ya dirawat selamanya jadi inventaris RSJ. Dinas sosal yang harus menampung pasien-pasien macam ini setelah mondok di RSJ selalu mengajukan alasan klasik, bahwa panti karya nya yang di tiap propinsi cuma ada satu sudah penuh.

Toh ada hal yang positif, meski agak lucu, dari masalah Jamkesmas untuk pasien-pasien jiwa yang tak punya kartu ini. Bila ia jelas telah dipasung untuk beberapa lama, atau menggelandang dan digaruk Dinas Sosial, bila dibawa ke RSJ secara otomatis ia menjadi pasien Jamkesmas. Kartu segera dibuatkan menyusul. Wah. Lha apakah untuk mendapatkan kartu Jamkesmas harus dipasung dulu selama minimal sekian bulan atau menggelandang dulu di jalan-jalan untuk digaruk Dinsos?

************

Di akhir tahun 2009 dari para kader kesehatan di desa-desa saya tahu mulai bermunculan kasus-kasus pasung secara diam-diam. Di tahun 2010 hal ini semakin merata, disebabkan hal-hal diatas. Ketika saya menjabat Kepala Keswamas RSJ, lima belas tahun yang lalu, bila ada berita kasus pasung segera Pak Nanang (Direktur) memerintahkan saya untuk mengambilnya dengan dua perawat dan ambulans serta uang saku buat makan bersama pasien di jalan.

Sayapun segera berangkat dengan memberitahu Puskesmas dan Muspida setempat. Mereka mencegat kami di jalan dan mengantar kami ketempat kasus pasung. Setelah pelepasan borgol atau kayu penjepit dimulai memandikan pasien bersih-bersih dan pemberian pakaian. Lalu ceramah singkat pada masyarakat sekitar dan negosiasi dengan keluarga.

Keluarga biasanya setuju si korban dibawa ke RSJ tapi tak bersedia menerimanya kembali dalam keadaan hidup. Baiklah, tak apa, pokoknya sekarang saya ambil. Besok, bila telah dikerjakan Terapi Kejang Listrik 20x , dengan obat-obatan antipsikotik dosis tinggi, terapi perilaku, asuhan keperawatan, terapi kerja, setahun lagi ia akan saya antar kembali dengan jiwa baru dan pakaian baru.

Keluarga pasti akan kaget terheran-heran. Dan saya pasti bawa pasukan dari RSJ untuk memotivasi seluruh keluarga dan masyarakat guna menerimanya kembali baik-baik, dengan jaminan. Bila sampai kambuh dan ngamuk supaya cepat dibawa ke RSJ lagi atau memberitahu kami untuk kami jemput.

Proses yang saya lihat sekarang tidak seperti itu lagi. Satu sama lain saling menunggu. Pihak kelurahan menunggu Puskesmas, Puskesmas menunggu RSJ dan RSJ menunggu Dinas Sosial. RSJ meski berulangkali telah memberitahu adanya kasus pasung di daerah tertentu, Dinas Sosial mengatakan masih sibuk dan banyak kerjaan lain yang harus diselesaikan. Atau tak ada anggaran, atau tak ada kendaraan, petugasnya lagi cuti, dsb.
Akibatnya yang dipasung ya tetap saja dipasung entah sampai kapan. Seharusnya tidak seperti itu. Dari RSJ segera berangkat dan ambil. Pihak Puskesmas dan kelurahan dihubungi sambil jalan dengan Hp (jaman saya dulu belum ada Hp). Bukankah setelah diambil dan benar-benar dipasung bila sampai RSJ harus diperlakukan sebagai pasien Jamkesmas?

Kenapa harus buang-buang waktu menunggu Dinas Sosial? Masalah administrasi tak boleh menghambat, harus ditebas. Urusannya bisa sampai ke Menkes bila korban pasung tak dapat fasilitas Jamkesmas. Jadi tebas dulu, urusan lain menyusul. Dinas Sosial akan terseok-seok mengurus surat-suratnya bila korban pasung sudah berada di RSJ.

Keluarga miskin dari kasus pasung biasanya dengan tingkat pendidikan rendah, sehingga sering diombang-ambingkan oleh petugas-petugas di wilayahnya. Untuk itulah perlunya kader-kader kesehatan Desa Siaga, atau LSM-LSM, membantu mengupayakan, ngiguhke atau mrenahke penderita skizofrenia itu. Membantu mengupayakan dan mendampingi, inilah yang sangat dibutuhkan keluarga yang kebingungan.

Inilah topik community mental health atau Kesehatan Jiwa Masyarakat yang harusnya diseminarkan oleh Psikiatri Komunitas. Bukan mengajarkan dokter Puskesmas bagaimana caranya mengobati skizofrenia dengan antipsikotik. Topik pasung adalah topik menarik Psikiatri Komunitas dengan unssur-unsur komponennya, Kelurahan dan kecamatan, Puskesmas, RSUD Kaabupaten, TPKJM, Desa Siaga, Dinas Sosial, Panti Karya, Dinkes, Pemda, dan RSJ hanya sebagai fasilitator , provokator, dan eksekutor.

Organisasi masyarakat seperti Kelompok Peduli Skizofrenia juga sangat strategis berperan disini. Ngiguhke dan mendampingi penderita skizofrenia dengan keluarganya untuk mencari pertolongan supaya penderita bisa hidup secara normal. Jadi bukan hanya diskusi-diskusi, pertukaran informasi dalam pertemuan atau lewat jaringan sosial, atau berasyik-asyik dengan satu pasien yang kebetulan dijumpai, tapi dengan wawasan dan kegiatan dalam skop luas. Satu Kabupaten atau satu kecamatan sajalah.

Prevalensi skizofrenia yang telah meningkat dari satu permil jadi satu persen (meski mungkin karena sekarang lebih banyak yang terdeteksi yang dibawa ke fasilitas yankeswa), tentunya lumayan banyak untuk satu kecamatan saja dan cukup capek untuk dikerjakan. Kelurahan dan Puskesmas pasti tahu dimana saja penderita skizofrenia itu bertebaran.

Talking about mental illness is talking about human suffering kata senior saya dr Wildan SpKJ selalu yang kemungkinan cuma meniru ucapan Prof Kusumanto Setyonegoro, SpKJ. Bicara tentang gangguan mental adalah bicara tentang penderitaan manusia. Mudah-mudahan dengan semangat pengabdian dan penuh cinta kasih pada sesama yang menderita skizofrenia, statement ini bisa kita ubah: Talking about mental illness is talking about human suffering that ending with hapyness. Bicara tentang gangguan mental adalah bicara tentang penderitaan manusia yang berakhir dengan kebahagiaan.****

Inu Wicaksana, 9 Okt 2010.
Smart Mind Centre (SMC) Yogyakarta
Desa Popongan RT14, Sinduadi, Mlati, Sleman.

pasien gangguan jiwa RSJ Magelang sedang dilatih terapi aktivitas kelompok di halaman depan RSJM okt 2010 - dok.pribadi

pasien gangguan jiwa RSJ Magelang sedang dilatih terapi aktivitas kelompok di halaman depan RSJM okt 2010 - dok.pribadi


TAGS


-

Author

Follow Me