MENGANTISIPASI DEPRESI

28 Oct 2010

Depresi adalah perasaan sedih yang berat dan berkepanjangan. Perasaan sedih ini dissebut depresi bila sudah membentuk suatu gangguan mental, yang bisa berderajat ringan, sedang, berat, bahkan dengan gejala psikotik seperti waham bersalah, halusinasi pendengaran berisi suara-suara yang menyalahkan, waham berdosa, nihilistik dan rendah diri.

Depresi biasanya dengan stressor kehilangan love object, sesuatu yang dicintai yang bisa berupa apa saja. Atau karena suatu tekanan kehidupan yang di luar kemampuan individu untuk mengatasi, bersifat tak terduga, dan beruntun. Individu tak bisa beralih selain harus menghadapi hal itu, terjadilah depresi.

Seperti ditulis bapak SF yang baru saja dipecat dari jabatannya di perusahaan hanya karena beda pendapat dengan atasannya yang lebih mendengarkan kelompoknya sendiri. Dan Ny. RS yang ditinggalkan suaminya secara tiba-tiba karena telah hidup dengan wanita lain di luar Jawa. Baik bapak SF maupun Ny.RS mengalami depresi taraf sedang dengan gejala murung, kecewa, merasa dikhianati, kehilangan minat dalam segala kegiatan dan waktu senggang, menyelahkan diri sendiri, dan sulit tidur, tak bergairah, ingin menyendiri terus, kehilangan nafsu makan dan berat badan menurun.

Depresi juga terjadi karena kemarahan, kebencian, dan agresivitas pada orang lain maupun kepada diri sendiri. Maka dikatakan, agresivitas yang dibalik pada diri sendiri. Ditambah lagi karena tidak adanya pedoman hidup (misalnya ajaran agama), atau pegangan hidup yang bisa dipakai untuk menangkal tekanan atau kehilangan besar itu (coping resources).

*****

Sesungguhnya depresi bisa ditanggulangi sendiri dengan dua cara. Pertama, adalah dengan menerima dengan ikhlas semua hal yang menyedihkan itu. Antara lain dengan falsafah hidup Jawa seperti rila, sabar, narima. Ini berarti menerima tanpa reserve, dengan toleransi seluas lautan,menerima dengan riang hati segala sesuatunya sebagai kehendak Tuhan.Tidak secara pasif tapi aktif, dengan doa dan meditasi, dengan menjalankan berbagai kegiatan sebagai tanda ikhlas pada Tuhan, dengan menggugah diri untuk tetap aktif menjalankan kegiatan kehidupan, sosialisasi dan ibadah. Pada sebagian orang, ini bisa berhasil karena depresi juga penyakit yang bisa sembuh sendiri tanpa pengobatan.

Tapi pada sebagian yang lain, gagal total dan individu semakin lama semakin dalam terjerumus dalam depresinya sendiri. Orang seperti ini selalu menolak untuk ditolong siapapun. Ia secara unconscious mencintai depresinya dan seakan mempertahankan keadaan depresinya. Bisa kita lihat orang sehat fisik yang dibawa ke rumah sakit umum karena menolak makan dan minum berhari-hari, tatapan kosong tak mau bicara, bahkan setetespun air yang diberikan perawat ia menolaknya. Sehingga ia harus di infus dan makananpun lewat infus karena tubuhnya sudah sangat lemah.

Sayang sekali tak ada obat antidepresan dalam bentuk suntik. Andaikan ada tentu memudahkan pengobatannya, karena ia bisa dipegangi tiga perawat untuk disuntik. Semua obat antidepresan berbentuk tablet yang bisa disemburkan pasien seperti ini hingga saya terpaksa harus menyetroomnya (Terapi Kejang Listrik) di RSJ untuk menyelamatkannya.

Cara yang kedua adalah kebalikannya, mengantisipasi depresi itu. Mengapa kita harus depresi untuk hal seperti itu? Berarti kita cukup bodoh dan bisa dikalahkan karena cenderung menghancurkan diri. Maka katakanlah : Mengapa aku harus depresi dengan hal sepele seperti itu? Mengapa aaku sedemikian bodoh dan mau menghancurkan diriku oleh perbuatan konyol manusia itu? Bukankah aku manusia kuat yang punya Tuhan? Aku tak bisa dikalahkan oleh hal macam itu karena aku punya Tuhan.

Bukankah menjadi depresi atau tidak tergantung pilihan kita sendiri? Bukankah masih banyak yang bisa kita kerjakan dan masih banyak orang-orang yang mencintai kita?. Dengan konsep-konsep macam ini kita telah mengantisipasi depresi.

Banyak orang sadar bahwa mereka cemas, marah, atau sedih karena kejadian tertentu. Lalu mereka mulai mengkritik diri karena telah begitu lemah atau bodoh. Sebagai akibatnya, mereka menderita tidak hanya karena cemas, depresi, amarah, atau rasa bersalah yang sebenarnya, tapi diatas itu semua, mereka juga merasa bersalah karena telah merasa menderita.

Jadi, mereka mereka membuat diri mereka sendiri depresi karena depresi yang mereka rasakan, cemas karena kecemasan, marah karena kemarahan, bersalah karena rasa bersalah yang timbul, dan setelah itu biasanya tergelincir pada kondisi mengasihani diri sendiri.

Bapak SF sangat benci dan marah pada atasannya yang dianggapnya sewenang-wenang dan berpihak pada kelompok yang memusuhinya. Dan Ny.RS menyesal karena merasa bersikap kurang baik dan kurang asertif pada suaminya hingga suaminya tergaet wanita lain di luar Jawa.

Jika bapak SF menghabiskan waktu dan enerji karena marah pada atasannya padahal atasannya tidak peduli dengan keadaannya, ia cenderung tenggelam dalam keburukannya sendiri sehingga ia semakin tidak punya waktu untuk menyelesaikan masalahnya sendiri bagaimana cara terbaik untuk menghadapi atasannya atau bagaimana mencari tempat kerja yang lebih baik.

Jika Ny.RS tetap marah dan menyesali dirinya sendiri karena merasa bersikap kurang asertif terhadap suaminya, kemarahan dan penyesalannya itu justru akan menghambatnya untuk mengembangkan ketrampilan sosial dan kemampuan interpersonal yang ia butuhkan, mungkin untuk mendapatkan suami yang lebih baik.

Langkah pertama untuk mengoreksi hal ini adalah dengan hati-hati menilai diri anda sendiri. Jika anda merasa depresi atau mungkin cemas, tanyakan pada diri anda sendiri apakah anda juga merasa depresi karena depresi, atau cemas karena kecemasan. Jika jawabannya Ya, terimalah kenyataan bahwa, sebagai manusia, anda berhak untuk merasa seperti yang sedang anda rasakan tanpa rasa bersalah.

Katakan pada diri sendiri : Saya tidak suka merasa cemas atau depresi, jadi sebagai ganti dari merendahkan diri dan menciptakan beban berat, saya akan mencoba memperbaiki situasi yang sebenarnya. Yakinkan diri anda bahwa pasti ada masalah ketika anda memperlakukan diri dengan buruk, sementara anda berbaik-baik dan penuh maaf pada orang lain.

pasien jiwa RSJ Magelang dilatih baris-berbaris pagi hari di halaman 2010  - dok.pribadi

pasien jiwa RSJ Magelang dilatih baris-berbaris pagi hari di halaman 2010 - dok.pribadi

Ingatlah bahwa anda juga seorang manusia, dan anda pantas mendapatkan kebaikan, bahkan dari diri anda sendiri.****


TAGS


-

Author

Follow Me