KEJANG-KEJANG DAN PINGSAN DI TPS MERAPI

24 Dec 2010

Bila seorang gadis remaja tiba-tiba kejang-kejang lalu jatuh seperti pingsan di tempat keramaian, seperti upacara perkawinan, upacara pagi di sekolah, malam inagurasi di sekolah, pesta seni SMA, maka gemparlah semua orang. Ada yang mengatakan itu sakit ayan, atau kesurupan, atau stres saja, dsb. Yang jelas si gadis akan dirubung orang banyak yang kebingungan, maka akan semakin hebatlah gejala si gadis. Sampai dengan mematung, atau stupor, dengan tatapan kosong dan mata mendelik ke satu arah, bila dipegang, diraba, diajak bicara tak ada respon malah menjatuhkan diri seperti pingsan.

Dan Tempat Pengungsian Sementara (TPS) penyintas (korban) Merapi adaalah tempat yang ramai, terutama bila penghuninya pada balik dari rumah atau desanya. Mereka mendapat jaminan makan dan logistik yang cukup dari pemerintah sementara bila balik ke rumah tak ada apa-apa yang bisa dimakan. Dalam situasi ramai seperti itulah beberapa kasus gadis muda yang kejang dan pingsan tanpa sebab ini bermunculan. Seperti dilaporkan para relawan pengurus TPS pada Tim-Tim Keswa yang rutin datang dari RSJ-RSJ.

*************

Pedoman DSM-IV (Amerika) mendefinisikan gangguan seperti diatas sebagai gangguan konversi, yaitu gangguan yang ditandai oleh satu atau lebih gejala neurologis (contohnya paralisis /kelumpuhan, kebutaan, dan parestesia yang tidak dapat dijelaskan oleh gangguan neurologis (syaraf) atau media yang diketahui. Disamping itu, diagnosis mengharuskan bahwa faktor psikologis berhubungan dengan awal atau eksaserbasi gejala.

Sindrom yang sekarang ini dikenal sebagai gangguan konversi pada awalnya dikombinasikan dengan sindrom gangguan somatisasi, dulu lazim disebut histeria, reaksi konversi, atau reaksi disosiatif. Ahli-ahli Briquet dan Jean-Martin Charcot berperan dalam mengembangkan konsep gangguan konversi dengan menemukan pengaruh hereditair pada gejala dan seringnya hubungan pikiran individu dengan peristiwa traumatik.

Istilah konversi pertama kali diperkenalkan oleh Freud. Yang menghipotesiskan berdasar penelitiannya pada pasien Anna O, bahwa gejala gangguan konversi mencerminkan konflik bawah sadar.

Prevalensi gejala gangguan konversi taraf sedang adalah sebanyak 20-30% populasi umum. Rasio wanita yang terkena dibanding laki-laki pada usia dewasa adalah 2 banding 1. Sedang pada usia remaja adalah 5:1. Gangguan ini memang lebih sering terjadi pada wanita usia muda dibanding laki-laki. Karena itu dulu disebut histeria dari kata his yang berarti rahim.

Dari konsep psikoanalitik, gangguan konversi disebabkan oleh represi konflik intrapsikis bawah sadar dan konversi kecemasan ke dalam suatu gejala fisik. Konflik itu adalah antara dorongan instink agresif dan seksual dan penghambatan terhadap ekspresinya.

Gejala konversi, seperti kejang-kejang, kelumpuhan dan pingsan-pingsan, atau kebutaan, memungkinkan ekspresi sebagian keinginan atau dorongan yang dilarang tapi tersembunyi, sehingga pasien tidak perlu secara sadar berhadapan dengan impuls mereka yang tidak dapat diterima. Karena itu dikatakan gejala gangguan konversi memiliki hubungan sombolik dengan konflik bawah sadar.

Gejala konversi juga memungkinkan pasien mengkomunisasikan pada orang lain bahwa mereka membutuhkan perhatian khusus dan pengobatan khusus pula. Gejala tersebut dapat dapat berfungsi secara nonverbal untuk mengendalikan atau memanipulasi orang lain. Karena itu gejala konversi sering terjadi pada individu yang mempunyai ciri kepribadian histrionik. Yaitu manja,dependen, selalu ingin jadi pusat perhatian, mendambakan rabaan-rabaan erotis, dan suka membesar-besarkan (mendramatisir) masalah.

Gangguan konversi, yang jaman dulu lazim dikenal para dokter dengan Histeria-Konversi ini, memang unik. Selain penjelasan psikoanalitik diatas pada gangguan dengan penampilan gejala fisik ini tidak akan didapatkan kelainan dan abnormalitas fisik, dari segi syaraf maupun penyakit somatik. Meski kita harus waspada terhadap kemungkinan epilepsi, bila gangguan epilepsi pasti individu sudah sering mengalami kejang sejak bertahun-tahun lalu. Sudah tentu mempunyai obat-obat anti epilepsi yang harus diminum rutin.

Keunikan lain adalah adanya tujuan primer dan tujuan sekunder pada gangguan konversi ini. Tujuan primernya adalah pasien dapat mempertahankan konflik pribadinya di luar kesadaran mereka. Gejala konversi memiliki nilai simbolik yang mewakili konflik psikologis bawah sadarnya.

Tujuan sekunder, pasien mendapatkan keuntungan yang nyata aakibat mereka sakit dengan gejala yang nampak menakutkan itu. Seperti dimaafkan dari kewajiban dan situasi kehidupan yang sukar (seperti tugas militer, kewajiban melakukan pekerjaan rutin di TPS, mencari air dan mencuci pakaian sekeluarga, dsb). Mendapatkan perhatian dan bantuan yang mungkin tak akan didapat pada keadaan normal (sehat). Jadi semakin banyak yang merubung, menunggui dengan penuh kecemasan, semakin gejalanya akan menjadi-jadi atau bertahan lama, meski semuanya terjadi secara unconscious (nirsadar).

Lalu bagaimana bila putri anda mengalami hal seperti ini? Yang pertama harus disadari bahwa ini adalah gangguan konversi, bukan penyakit ayan atau kesurupan atau penyakit fisik berat yang lain. Ini adalah gangguan yang terjadi pada individu-individu yang histrionik, yaitu manja, dependen, ingin mendapat perhatian banyak orang, mendramatisir masalah, dan dimaafkan untuk tidak melakukan tugasnya.

Dipicu oleh suatu ingatan, atau kenangan, terhadap hal-hal traumatis yang biasanya sutau kehilangan cinta dan kasih sayang. Misal ingat pada ibunya yang sudah meninggal, atau perceraian orangtuanya, atau putus dengan pacarnya, atau disakiti oleh teman laki-lakinya yang ternyata mendekati gadis lain. Pemicu paling kuaat adalaah erupsi Merapi yang dahsyat itu, yang menimbulkan ketakutan, kengerian, kecemasan dan akhirnya kesedihan.

Yang kedua, kaarena settingnya di TPS, maka aanjurkan putri anda untuk mengikuti Senam Terapi Relaksasi Fisik dan Mental yang dipimpin paraa perawaat jiwa yang datang rutin ke TPS dalam Tim Pertolongan Pertama Psikologis pada korban bencana Merapi. Senam ini bukan senam biasa, tapi yang seakan meditasi dan hipnosis diri, secara bersama-sama.

Mereka

anggauta Brigade Siaga Bencana Bidang Keswa bersama anak2 pengungsi korban Merapi di desa Paten, Dukun, Km5 Merapi 23 des 2010 - dok.pribadi.

anggauta Brigade Siaga Bencana Bidang Keswa bersama anak2 pengungsi korban Merapi di desa Paten, Dukun, Km5 Merapi 23 des 2010 - dok.pribadi.

diajak melakukan gerakan-gerakan tangan naik turun secara pelan, menutup mata, membayangkan kembali ssemua kenangan manis, indah dan menyenangkan di masa lalu. Ini untuk menindih kenangan-kenangan traumatis yang menyakitkan. Bahwa selain kenangan jelek itu, orang punya kenangan-kenangan indah yang membahagiakan. Sekarang, dengan Tuhan Yang Maha Pengasih, bukan tak mungkin hal-hal yang manis dan indah itu bisa datang kembali bukan? Setiap kali ia mengalami ketegangan dan kesedihan, ia harus melakukan sendiri senam yang sepeerti meditasi dan menghipnosis diri itu. Insya Allah, gangguan konversi tak kan pernah bisa muncul kembali.***


TAGS


-

Author

Follow Me