OTAK DAN PERILAKU KECANDUAN

28 Feb 2011

Seorang ibu pernah menulis ke rubrik kita ini tentang perilaku putranya yang kecanduan napza jenis heroin selama 10 tahun. Ibu itu heran, selain putus asa berusaha menyembuhkan putranya. Setiap kali bangun pagi yang dikerjakan pertama kali adalah menyuntik heroin. Bila itu tak dikerjakan ia tak bisa menjalankan kegiatan hariannya. Berarti setiap hari pemuda itu harus menyediakan Rp300.000,- untuk setengah gram heroin yang harus digunakannya 5x suntik sehari itu.

Ia telah 3 kali tertangkap polisi dan 2 kali masuk panti pemulihan, tapi keluar dari panti ia disambut teman-temanya dan langsung menyuntik lagi. Ketika ia telah dinyatakan positif HIV, ia tidak jera juga dan terus-terusan mencari bandar-bandar baru. Perilaku ini diperkuat karena pamannya yang masih muda juga seorang junkie yang belum mau berhenti juga memakai heroin.

Ibu yang lain pernah menulis tentang putranya yang kecanduan game-online atau game di internet. Ibu itu dipanggil ke sekolah putranya oleh wali kelas, karena putranya sudah berhari-hari tak masuk sekolah. Ternyata ia tidak berangkat ke sekolah tapi ke tempat game-station. Ia sampai menginap beberapa hari di tempat itu. Bapaknya kemudian membelikan komputer yang dipasangi internet supaya si anak bermain game di rumah saja. Tapi tetap saja ia main game tak terkendali dan jelas tak pernah belajar. Pikirannya berulang-ulang fokus ke main game saja. Akhirnya ia terpaksa tidak naik kelas karena nilai hariannya jeblog semua.

Saya ingat seorang ibu lain yang masuk kamar praktek saya di RS Swasta dengan putranya, seorang mahasiswa yang kecanduan judi. Ia tak bisa belajar bila tidak berjudi minimal 2 jam setiap hari di tempat perjudian. Ayahnya sudah meninggal dan bila ibunya melarang, ia menangis meraung-raung dan membanting barang-barang. Ia minta diijinkan berjudi satu jam saja sebelum belajar untuk mid semesternya.

Apa yang terjadi dengan anak-anak ini? Benarkah hanya pengaruh teman, atau pengaruh lingkungan yang menyebabkan mereka keranjingan tak terkendali untuk melakukan kecanduannya itu? Seberapa nikmat atau senangnya adiksinya itu sehingga mereka tak bisa hidup tanpa melakukan secara berulang hal itu? Apakah tidak ada faktor di otak mereka yang menyebabkan mereka terdorong membabi-buta melaksanakan perilaku kecanduannya itu?

******************
Penelitian-penelitian di bidang adiksi dan mind-sciences (neurosciences) dalam kurang lebih 10 tahun terakhir ini telah mendapatkan temuan-temuan nyata tentang peran dan mekanisme otak dalam perilaku kecanduan. Bila jiwa dan perilaku manusia dipandang sebagai otak yang dioperasionalkan maka semua perilaku manusia, termasuk perilaku adiksi (kecanduan) harus dipandang faktor di otaklah yang bertanggungjawab.

Apakah kecanduan (adiksi) itu didapat dari pengaruh lingkungan dan teman dekat, atau diturunkan (diwariskan)? Sebuah hipotesis klasik mengatakan bahwa ada ragam genetik tertentu di otak yang menyebabkan seseorang, mau tidak mau, menjadi pecandu (heroin, amfetamin, nikotin, alkohol, dan lain-lain). Pada sepuluh anak yang diajari menyuntik heroin tiap hari sampai lima hari, hanya 2 atau 3 yang lanjut menjadi pecandu, lainnya sama sekali tidak menjadi pecandu. Demikian pula halnya dengan rokok. Hanya 2 atau 3 dari sepuluh anak yang menjadi perokok berat (lebih dari 10 batang perhari).

Dengan menggunakan peralatan meddis canggih seperti MRI, CT Scan,Brainmapping, dan lain-lain penelitian-penelitian adiksi bisa menunjukkan bahwa faktor-faktor di otak yang bertanggungjawab pada terjadinya adiksi adalah senyawa neurokimiawi di celah sinaptik yang disebut dopamin. Celah sinaptik terdapat antara ujung satu sel syaraf (neuron) dengan ujung sel syaraf yang lain.

Dopamin yang dikeluarkan ke celah sinaptik dari ujung sel syaraf akan ditarik dan ditangkap oleh reseptor-reseptor dopamin pada dinding ujung sel syaraf lain pada celah itu. Keluarnya dopamin yang cukup, dalam kondisi normal, akan menimbulkan rasa nyaman secara fisik dan mental pada individu. Bila suatu saat pengluaran dopamin menurun, maka sirkuit otak yang didukung neurotransmiter lain, GABA, akan bereaksi meningkatkan dan akibatnya akan tercapai respons kenikmatan lagi.

Opiat seperti heroin dan kokain yang disuntikkan dalam darah akan mendorong pengluaran dopamin ke celah sinaptik lebih banyak dan akibatnya tercapai respons rasa nyaman atau nikmat yang tinggi. Bila kemudian efek opiat yang mendorong dopamin ini menurun individu merasa tidak nyaman bahkan kesakitan, maka ia harus mengkonsumsi opiat lagi, secara dibakar dan disedot ataupun disuntikkan untuk meningkatkan pengluaran dopamin lagi yang menimbulkan rasa nikmat lagi. Ternyata untuk memperoleh rasa nikmat yang sama dibutuhkan zat adiktif yang makin lama semakin banyak kadarnya. Terjadilah toleransi zat, dan pengulangan-pengulangan terus yang disebut kecanduan (adiksi).

Opiat (heroin, kokain) ternyata juga merusakkan sistem neurotransmiter GABA yang berfungsi sebagai pengerem atau penghambat reseptor-reseptor dopamin yang akan meningkatkan kadar dopamin terus menerus. Sistem GABA yang membentuk sirkuit keseimbangan otak ini dihancurkan oleh zat adiktif heroin atau kokain. Maka individu secara tak terkendali menyuntikkan heroin terus sampai sehari sepuluh kali untuk meningkatkan dopamin yang menghasilkan rasa nikmat napza.

Para peneliti menemukan adanya predisposisi genetik pada para pecandu berat opiat dan alkohol, yaitu tingginya jumlah A1 allele dari gen reseptor DRD2 (dopamin) dan rendahnya jumlah gen reseptor serotonin di otak mereka sebelum mereka menjadi pecandu. Tingginya jumlah allele gen repetor dopamin ini menyebabkan dopamin yang tercurah pada mereka memang banyak dan dibutuhkan zat adiktif opiat atau alkohol untuk mempercepat peningkatannya bila suatu ketika menurun.

Jadi mereka cenderung mencari zat-zat yang bisa secara cepat dan hebat meningkatkan lagi dopamin mereka. Sedang rendahnya jumlah reseptor serotonin menyebabkan selalu menurunnya serotonin di celah sinaptik yang menyebabkan depresi dan bunuh diri. Pemakaian heroin, amfetamin atau alkohol akan mendorong pelepasan neurotransmiter serotonin ini yang bila meningkat kadarnya akan menghilangkan depresi dan memberikan rasa nyaman dan bahagia.

Penggunaan naltrekson, obat yang bisa memblokir reeseptor-reseptor opiat menyebabkan opiat tidak bisa ditangkap tubuh untuk mendorong pelepasan dopamin, dan akibatnya pecandu tidak akan bisa mendapatkan rasa nyaman dan senang bila memakai napza jenis opiat, juga membuktikan peranan otak dalam proses kecanduan. Namun demikian, peran lingkungan atau pengaruh teman dekat tak bisa dikesampingkan dalam proses terjadinya adiksi, karena bagaimanapun, seorang pecandu tak akan bisa memperoleh napza bila tidak diberi dan dipengaruhi teman-teman di lingkungannya.****(twitter @inukertapati)


TAGS


-

Author

Follow Me