MENGHENTIKAN HASRAT UNTUK MENANG DEMI PERKEMBANGAN MENTAL

10 Apr 2011

Ironis memang. Setiap orang punya keinginan untuk sukses dan berarti pasti punya hasrat untuk menang. Mengapa harus dilepaskan? Banyak sekali pengajaran motivasi untuk menang diceramahkan oleh para motivator khususnya dalam bisnis mengapa malah harus dibuang hasrat yang sangat berharga ini? Ya, karena dalam praktek kehidupan, seringkali hasrat ini malah menyebabkan orang itu tertekan, kecewa, frustasi dan akhirnya depresi.

Seperti saudara MN yang menulis pada saya tentang usahanya memperjuangkan rencana strategik perusahaannya selama 5 tahun yang harus diterima direktur utama bersaing dengan renstra bikinan sekelompok rekan-rekannya yang berbeda prinsip dengannya. Pak MN tak ingin bermusyawarah dengan rekan-rekannya itu dan justru menantangnya bersaing. Akhirnya pak MN merasa tertekan, selalu was-was, akhirnya frustasi. Orang Jawa bilang wani ngalah duwur wekasane , mungkin perlu direnungkan untuk kasus ini. Zen mengatakan manusia stres, atau tertekan, karena attachment atau kelekatan-kelekatannya sendiri dalam hidupnya. Kelekatan pada hasrat untuk menang.

****************

Sering kali, ketidakmampuan seseorang melepaskan diri atau menghentikan hasratnya untuk menang menyebabkan ia membutuhkan pertolongan psikiatris. Ambivalensi dan keragu-raguan untuk melepaskan apa yang sudah sekian lama melekat dirinya memang membutuhkan pertolongan orang lain yang profesional. Tapi, keeputusan untuk mencari pertolongan psikiatri dalam diri individu merepresentasikan upaya menghentikan citra diri bahwa saya baik-baik saja. Penghentian ini terutama sulit bagi kebanyakan pria dalam kebudayaan kita yang bagi mereka perasaan bahwa saya tidak baik-baik saja dan saya membutuhkan bantuan untuk memahami mengapa saya tidak baik-baik saja dan bagaimana saya menjadi baik-baik saja sering dan secara menyedihkan disamakan dengan saya lemah, tidak maskulin, dan tidak berdaya.

Sesungguhnya prroses pelepasan hasrat atau penghentian sering sudah dimulai sebelum individu sampai pada keputusan mencari pertolongan psikiatri. Selama proses penghentian hasrat untuk menang itu individu merasa tertekan. Ini karena perasaan yang dikaitkan dengan menghentikan sesuatu yang dicintai setidaknya sesuatu yang menjadi bagian dari diri kita dan sudah akrab adalah depresi (kehilangan obyek cinta).

Karena orang-orang yang sehat secara mental harus berkembang, dan penghentian atau kehilangan diri yang lama merupakan bagian integral dari proses perkembangan mental spiritual, maka depresi adalah adalah sebuah fenomena normal dan sehat. Depresi menjadi tidak normal dan tak sehat bila ada sesuatu yang mengganggu proses penghentian tersebut yang mengakibatkan depresinya menjadi berkepanjangan dan tidak bisa diatasi dengan menyelesaikan proses tersebut.

Ada banyak faktor yang bisa mengganggu proses penghentian tersebut. Salah satunya yang paling lazim adalah pola pengalaman pada masa anak ketika para orangtua atau takdir yang tidak responsif terhadap kebutuhan-kebutuhan seorang anak merampas banyak hal dari diri seorang anak sebelum dia secara psikologis siap atau cukup kuat menyerahkannya untuk menerima kehilangan ini.

Pola pengalaman pada masa anak ini membuat anak tersebut sangat sensitif untuk mengalami kehilangan dan menciptakan kecenderungan yang lebuh kuat daripada yang ditemukan pada orang-orang yang lebih beruntung karena dapat mempertahankan banyak hal dan berusaha menghindari rasa sakit akibat kehilangan atau penghentian tersebut.

Karena itu, meski seluruh depresi patologis memiliki hambatan tertentu dalam proses penghentian itu, ada satu jenis depresi neurosis kronis dengan kesedihan traumatis sebagai akar terpentingnya yang mempengaruhi kemampuan dasar seseorang untuk menghentikan segala hal. Depresi ini bisa disebut sebagai neurosis penghentian.

Sebagian besar individu yang meminta bantuan psikiatris hanya menghendaki pelepasan dari gejala-gejala depresi secara cepat dengan obat antidepresan misalnya hingga segala hal bisa berjalan sebagaimana mestinya. Mereka tidak tahu bahwa segala hal tidak dapat lagi berjalan sebagaimana mestinya. Tapi, pikiran tak-sadar mengetahui hal itu. Justru karena pikiran tak-sadar dengan kearifannya tahu bahwa segala hal yang harus berjalan sebagaimana mestinya tidak dapat lagi dipertahankan, maka proses perkembangan dan penghentian dimulai pada tingkat tak sadar, dan depresipun terjadi.

Kenyataan bahwa pikiran tak sadar selangkah lebih maju dari pikiran sadar merupakan prinsip mendasar dari fungsi mental. Seperti halnya krisis paruh baya. Sesungguhnya ini hanya salah satu diantara banyak krisis atau tahap-tahap perkembangan yang kritis dalam kehidupan sebagaimana diajarkan Erik Erikson beberapa puluh tahun yang lalu. Erikson menngambarkan delapan krisis. Hal yang menimbulkan beragam krisis dalam berbagai periode transisi siklus kehidupan ini problematis dan menyakitkan adalah dalam upaya untuk melampauinya secara berhasil. Kita harus menghentikan ide, gagasan-gagasan, yang dulu dihargai dan cara-cara lama untuk melakukan dan memandang segala hal.

Banyak orang tidak mampu dan tidak bersedia menanggung rasa sakit akibat menghentikan (melepaskan) apa yang sudah berkembang tapi harus dilenyapkan. Mereka berpegang teguh pada pola pemikiran dan perilaku lamanya. Karena itu mereka gagal dalam menghadapi beragam krisis gagal menjadi benar-benar dewasa dan gagal mengalami rasa kelahiran kembali yang penuh kegembiraan dan suka cita mengiringi keberhasilan transisi menuju tingkat kedewasaan yang lebih tinggi.

Beberapa keadaan, hasrat, dan sikap terpenting yang harus dihentikan dalam perjalanan menuju perkembangan seumur hidup yang berhasil, diantaranya : hasrat akan penguasaan penuh atas kedua orangtua kita; ketergantungan masa anak; kemahakuasaan masa remaja, kebebasan tanpa komitment; ketertarikan seksual atau potensi masa muda; wewenang atas anak-anak kita, kemandirian kesehatan fisik, beragam bentuk kekuasaan sementara, dll.(twit @inukertapati)****


TAGS


-

Author

Follow Me