PIKIRAN DAN SIKAP MENTAL MEMBENTUK DIRI KITA

9 May 2011

Seorang pria muda, 35 tahunan, menulis ke rubrik kita ini, mengapa ia tidak bisa bahagia seperti orang-orang lain yang mempunyai hal-hal dan keadaan sama seperti dia? Ia pegawai dari Kalimantan yang sudah lulus studi S2 dengan cum laude di Yogya. Mengapa ia tidak bisa bahagia, sedang teman-temannya yang lulus pas-pasan bahkan harus mengulang ujian bisa bergembira setengah mati? Ia mendapat hadiah sejumlah uang dari ayahnya yang kaya yang cukup untuk membeli sebuah mobil yang mewah, mengapa ia tidak bahagia sedang teman-temannya mendapat kenaikan gaji PNS 10% saja berjingkrak-jingkrak gembira? Ia mempunyai istri yang baik dan setia, sarjana pula, mampu memelihara dua anaknya yang manis, mengapa ia tidak bisa bahagia sedang temannya yang keluarganya berantakan masih bisa gembira setiap hari?

Dengan mudah saya bisa mengatakan bahwa ia mengalami anhedonia, tidak bisa merasakan kegembiraan seperti orang lain bila mengalami hal dan situasi yang sama. Jelas ini adalah gejala utama depresi. Suatu gangguan mental yang ditandai oleh kesedihan, kemurungan, perasaan tertekan yang berkepanjangan. Lalu dengan mudah pula ia saya beri obat antidepresan golongan baru, SSRI, dosis tunggal yang tepat selama sebulan maka hilanglah depresinya. Tapi bagaimana bila efek obat habis dan ia masih harus menghadapi hidupnya yang sama? Ia akan jatuh lagi dalam depresinya. Maka sedikit banyak, sebuah psikoterapi singkat yang bisa merubah fokus dan cara pandangnya terhadap hidup ini harus diberikan. Ini lumayan sulit, individu itu harus bisa menemukan caranya sendiri.

****************

Pengalaman paling penting yang kita pelajari dalam penganan kasus-kasus semacam ini adalah, apa yang kita pikirkan dan bagaimana kita meengelola pikiran itu. Banyak ahli peerilaku berpendapat bahwa pikiran kita membentuk diri kita. Sikap mental kita adalah faktor utama yang menentukan nasib kita. Emerson berkata: Seseorang adalah apa yang ia pikirkan sepanjang hari. Bagaimana seseorang bisa menjadi sesuatu yang lain?

Masalah terbesar yang harus kita hadapi adalah bagaimana kita memilih bentuk dan jenis pikiran yang tepat. Apabila kita bisa melakukan hal itu, kita akan berada di sebuah jalan tol untuk untuk menyelesaikan semua permasalahan hidup kita. Filssuf terbesar yang pernah menguasai kekaisaran Romawi, Marcus Aurelius, menegaskan : Hidup kita adalah apa yang dibuat oleh pikiran kita.

Jika kita kita berpikir tentang pikiran-pikiran bahagia, kitapun akan menjadi bahagia. Jika kita berpikir tentang pikiran-pikiran yang jelek, kitapun akan menjadi jelek. Jika kita memikirkan pikiran-pikiran ketakutan, kita akan menjadi ketakutan. Jika kita memikirkan pikiran-pikiran yang sakit, kita pun mungkin akan menjadi sakit pula. Jika kita memikirkan pikiran-pikiran kegagalan, kita tentu akan menjadi gagal. Jika kita tenggelam dalam sikap mengasihani diri sendiri, semua orang akan menghindari kita. Itulah sebabnya akhir-akhir ini, karena saya bosan menasehati pasien-pasien saya psikosomatik, saya anjurkan saja pada mereka, setiap bangun pagi mengatakan dalam pikirannya : Aku sehat hari ini, tak kekurangan suatu apa, semua akan baik-baik saja dan aku akan bahagia. Nampaknya ini mujarab bagi mereka dan bagi diri saya sendiri.

Saya menganjurkan agar kita selalu mengambil sikap positif dan bukan sebaliknya, sikap negatif. Selalu ngresula(mengeluh), mengumpat, adalah sikap negatif. Dengan kata lain, kita butuh untuk merasa peduli pada masalah kita, tapi bukan merasa cemas. Peduli berarti menyadari apa permasalahannya dan dengan tenang mengambil langkah untuk menyelesaikannya. Cemas berarti pergi berputar-putar dalam sebuah lingkaran setan.

Seseorang bisa merasa peduli tentang masalahnya yang berat dan serius tapi masih bisa berjalan atau berdiri tegak, berpakaian rapi dan tersenyum hangat kesemua orang. Ini dikerjakan oleh seorang rekan saya, dr Enny Suci SpRad, Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD Muntilan. Awal Nopember 2010, RSU ini kena gempuran lahar panas dan debu Merapi. Direkturnya kebetulan berangkat naik haji. Enny dibantu tiga kepala bidang yang lain harus memimpin RS yang panik. Atap bangsal jebol dan runtuh, seluruh RS tertutup pasir dan debu , pembuangan air tersumbat pasir dan air membanjiri bangsal-bangsal sampai setengah meter. Listrik berkali-kali mati karena korsleting. Pasien diungsikan kesana kemari di lingkup RS ini. Akan diungsikan ke RS-RS terdekat sudah penuh semua. Separo pegawai RS sudah tak datang, mengungsi, karena lokasi RS yang 10 km dari Merapi memang sudah masuk zona bencana.

Kota Muntilan tertutup pasir dan debu seperti kota mati, tapi RS harus tetap buka karena pasien-pasien terus berdatangan tiap hari. Dokter Kabidyanmed yang panik dan ketakutan itu segera menyadari, bila ia panik anak buahnya yang tinggal separo akan semakin panik lagi. Bila ia ketakutan, anak buahnya akan berlarian dari RS. Maka ia mengambil sikap mental dan pikiran positif. Berdoa pada Tuhan memohon bantuan demi pasien dan yakin entah dari mana bantuan pasti datang. Ia berpakaian seragam dinas rapi dengan rompi biru Brigade Siaga Bencana, berdiri tegak di depan RS dengan tersenyum hangat dan gembira seakan tak ada apa-apa - pada pegawai-pegawai RS yang masih berani datang.

Secara tiba-tiba dan tak terduga, datanglah 60 orang Marinir dari Jakarta dengan 4 buah truk dan mobil-mobil militer yang siap untuk evakuasi pasien, dikirim atas permintaan Depkes. Mereka mengeruk dan membersihkan debu dan pasir panas Merapi di RS ini, memperbaiki segala kerusakan, menemani para perawat siang malam sehingga separo pegawai RS itu bisa tenang bekerja dan terus menjalankan tugasnya sampai bencana dahsyat Merapi lewat. Sikap mental dan pikiran bisa memiliki efek yang luar biasa bahkan pada kekuatan fisik kita.

Epictetus, filsuf besar Stoa, memperingatkan bahwa kita harus lebih peduli untuk menghilangkan pikiran-pikiran yang salah daripada menghilangkan tumor dan bengkak bernanah dari tubuh kita.

William James, seorang pakar psikologi praktis, menyatakan bahwa tindakan sepertinya mengikuti perasaan, tapi sesungguhnya tindakan dan perasaan berjalan beriringan. Dengan mengatur tindakan yang berada di bawah kendali langsung kehendak, kita bisa secara langsung mengatur perasaan yang tidak berada di bawah kehendak kita.

dr Ennysuci SpRad, Kabid Pelayanan Medik RSUD Muntilan berdiri dengan rompi Brigade Siaga Bencana didepan RSUD nya yang atapnya runtuh, listrik mati, halaman tertutup pasir, oleh bencana lahar panas Merapi awal Nopember 2010 - dok.pribadi

dr Ennysuci SpRad, Kabid Pelayanan Medik RSUD Muntilan berdiri dengan rompi Brigade Siaga Bencana didepan RSUD nya yang atapnya runtuh, listrik mati, halaman tertutup pasir, oleh bencana lahar panas Merapi awal Nopember 2010 - dok.pribadi

Montaigne, filsuf besar Prancis, mengambil moto hidupnya : Seseorang tidak akan merasa tersakiti begitu rupa oleh apa yang terjadi, tapi ia akan merasa tersakiti sedemikian rupa oleh pendapatnya tentang apa yang terjadi.***


TAGS


-

Author

Follow Me