FAKTOR-FAKTOR YANG MENGHAMBAT PENDERITA SKIZOFRENIA MENDAPAT PENGOBATAN

29 May 2011

Skizofrenia merupakan gangguan mental dengan perjalanan penyakit yang berlangsung kronis dan sering kambuh. Prevalensi gangguan skizofrenia pada populasi umum adalah berkisar 1 1,3% dan dapat ditemukan pada semua lapisan sosial, pendidikan, ekonomi, dan ras di seluruh dunia. (Saddock, ).

Gejala-gejala skizofrenia biasanya mulai muncul pada usia remaja akhir atau dewasa muda. Pada laki-laki biasanya mulai pada usia yang lebih muda yaitu sekitar 15 25 tahun, sedangkan wanita lebih lambat sekitar 25 35 tahun. Prognosisnya lebih buruk pada laki-laki dibandingkan dengan wanita (Saddock, ).

Di Indonesia, lama mencari pertolongan medis psikiatrik atau duration of untreated psychotic (DUP) serta faktor-faktor yang berhubungan masih jarang diteliti. Dengan mengurangi keterlambatan deteksi dini dan pengobatan akan memperbaiki outcome jangka panjang pada psikosis episode pertama. Raharjanti (2007) meneliti lama mencari pertolongan medis psikiatrik pada pasien psikosis episode pertama dan faktor-faktor yang berhubungan, mendapatkan hasil lama mencari pertolongan medis psikiatrik adalah 14 minggu, pada pencarian pertolongan didapatkan hanya 10% yang langsung ke yankeswa; jenis pertolongan pertama adalah pengobatan tradisional (38%) dan konsultasi dengan pemuka agama (30%). Alasan ke yankeswa adalah perilaku aneh (70%), mengganggu lingkungan (32%) dan perilaku agresif (26%). Perasaan negatif (62%) dan stigma (46%) merupakan halangan ke yankeswa.

Pengobatan psikiatri modern dan sistem pelayanan kesehatan untuk pasien gangguan mental di Indonesia sudah jauh lebih maju, tetapi banyak pasien dan keluarganya, karena faktor-faktor tertentu, belum memanfaatkannya secara optimal. Data Hardiman dan kawan-kawan (1992) menunjukkan adanya jalur panjang sebelum pasien mencapai Rumah Sakit Jiwa, namun belum menjawab faktor-faktor yang menyebabkannya. Salan (1983) melaporkan 37,9% pasien psikotik tidak berobat ke fasilitas pelayanan kesehatan jiwa pada saat pertama kali sakit.

Dharmady Agus, psikiater di Depkes RI Jakarta (2001) , melaporkan hasil penelitiannya tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pasien skizofrenia dalam pemilihan jalur pelayanan kesehatan jiwa pertama kali dan keterlambatan kontak ke fasilitas pelayanan kesehatan jiwa, sebagai berikut : (1) pasien skizofrenia dengan onzet umur yang tinggi akan lebih memilih jalur yankeswa pertama kali sebesar 1,1 kali dibanding pasien skizofrenia onzet umur rendah; (2) pembuat keputusan utama dengan persepsi terhadap yankeswa yang baik 461,2 kali kemungkinannya lebih memilih jalur yankeswa pertama kali dibanding pembuat keputusan utama dengan persepsi terhadap yankeswa yang buruk; (3) jenis awitan skizofrenia dengan onzet akut lebih banyak memilih jalur yankeswa pertama kali sebesar 78,3 kali kemungkinannya dan sub akut sebesar 37,6 kali kemungkinannya dibanding jenis awitan dengan onzet berangsur-angsur; (4) pasien skizofrenia yang bekerja 53,3 kali kemungkinannya lebih tyidak terlambat kontak ke fasilitas yankeswa dibanding pasien yang tidak bekerja; (5) pasien dengan jarak ke fasilitas yankeswa dekat lebih banyak tidak terlambat kontak ke fasilitas yankeswa sebesar 16, 3 kali kemungkinannya dibanding pasien dengan jarak jauh ke fasilitas yankeswa.

Di Indonesia, seperti juga negara-negara berkembang yang lain, skizofrenia (psikosis) kebanyakan timbul dari masyarakat sosial ekonomi rendah di kawasan pedesaan sampai pelosok-pelosok yang tidak terjangkau yankeswa. Jauhnya jarak ke fasilitas yankeswa di RSJ maupun RSUD Kabupaten yang telah mempunyai tenaga psikiater, salin faktor-faktor yang ditunjukkan dalam penelitian diatas, mengakibatkan terjadinya treatment gap skizofrenia di Indonesia. Istilah treatment gap merepresentasikan perbedaan (dalam prosentase) antara prevalensi sesungguhnya suatu gangguan dengan populasi individu yang mengalami gangguan itu yang telah mendapat pengobatan medik.

Bulletin WHO : the International Journal of Public Health (2004) memuat artikel penelitian The Treatment gap in mental health care, menampilkan hasil penelitian bahwa treatment gap skizofrenia di negara berkembang adalah 32%, dibanding depresi mayor 56%, gangguan bipolar 50%, gangguan panik 56%, gangguan obsesif kompulsif 60% dan penyalahgunaan alkohol serta zat adiktif lainnya 78%. Sebagai perbandingan, di Eropa, WHO European Ministerial Conference on Mental Health, Helsinki, 12 Januari 2005 menampilkan hasil penelitiannya bahwa treatment gap untuk skizofrenia dan non-affective psychosis adalah 17,8%. Penelitian Eka Viora dan kawan-kawan bekerja sama dengan WHO-SEARO di kecamatan Lewileang dengan populasi 177.454 membuktikan, hanya 3,50% penderita skizofrenia (psikosis) yang mencari pertolongan pada petugas pelayanan kesehatan, berarti ada treatment gap 96,5% untuk skizofrenia.

Maka penelitian kami ini bertujuan untuk mengetahui : (1) faktor-faktor yang mempengaruhi kunjungan pertama ke sarana yankeswa; (2) faktor-faktor yang menghambat penderita skizofrenia mendapatkan pengobatan; dan (3) faktor-faktor lain yang berkaitan dengan kedua hal itu.

Diketahuinya faktor-faktor ini semua akan membuktikan adanya treatment gap skizofrenia, selain dapat menggambarkan Treatment Algorithm pasien psikosis di Indoneisa.

Metodologi Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif pada populasi pasien skizofrenia yang diantar keluarganya datang berobat atau kontrol rawat jalan di RS Jiwa Magelang bulan Februari Mei 2008, dengan jumlah sampel sebesar 539 orang. Pengambilan data dengan menggunakan wawancara pada pasien dan keluarganya, dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan dalam angket, antara lain : kapan pertama kali muncul gejala?; sebelum dibawa ke RSJ telah dibawa kemana?; dibawa ke RSJ setelah berapa lama sejak gejala pertama kali muncul?; alasan tidak langsung dibawa ke sarana yankeswa kenapa?: apa penyebab timbulnya gangguan jiwa pada pasien?

Hasil Penelitian

Pembiayaan subyek ke fasilitas yankeswa RS Jiwa Magelang : (1) biaya sendiri 49,5%; (2) Askes PNS 61%; Askeskin / Jamkesmas 40,3 %; dan lainnya 2,4 %.
Umur subyek : kurang dari 12 tahun ( 8,3%), 12 21 tahun (75%), 21 45 tahun ( 13,5 %), 45 60 tahun ( 1,9 %); lebih dari 60 tahun (7 %).

Jenis kelamin subyek : wanita ( 37,3% ), laki-laki ( 62,7%).
Suku bangsa subyek : Jawa ( 49,4%), Sunda (0,2%), lainnya (0,2 %).
Pendidikan subyek : tidak sekolah (0,7%), lulus SD (29,5%), lulus SMP ( 24,2%), lulus SMU (40,1 %), lulus D3 (2,2 %), lulus S1 (3,5%), lulus S2 ( 0,2 %).

Pekerjaan subyek : tidak bekerja (56,8%), Pegawai Negeri (2,0%), ABRI ( 0,2 %), Pamong ( 13,7 %), Swasta (4,8 %), Wiraswasta ( 20,2 %), buruh/tani (1,9%)..
Subyek tinggal serumah dengan : orang tua / pasangan hidup (85,6 %), nenek ( 3,4 %), kakak/adik ( 6 %); lainnya (4,7 %).

Penanggung jawab subyek : orang tua / pasangan hidup (78,1%), keluarga lain ( 14,5 %), Pamong (5 %), lainnya (2,2 %).
Pendidikan orang tua (penanggung jawab) subyek : tidak sekolah ( 9,2%%), lulus SD (44,5 %), lulus SMP (16,9%), lulus SMU (21,6 %), lulus D3 (4,5%), lulus S1 (3,2 %).

Pekerjaan orang tua /penanggung jawab subyek : tidak bekerja (13,2 %), Pegawai Negeri (6,2%), ABRI (1,7 %), Pamong (15,3 %), Swasta ( 11,6 %), Wiraswasta (41,2 %), buruh/tani (10,3%), pensiunan (0,2%).
Penghasilan orang tua / penanggung jawab : kurang dari 1 juta perbulan ( 79,1 %), 1-2 juta (18,3 %), 2-5 juta (2,4%), lebih dari 5 jt (0,2 %).

Kapan pertama kali gejala gangguan jiwa pada subyek muncul : kurang dari 2 minggu yang lalu (0,2 % ), 2 minggu 1 bulan ( 3,7%), 1 6 bulan yang lalu (5,6 % ), 6 bulan 1 tahun yang lalu (4,6 %), lebih dari 1 tahun yang lalu 85,9%.
Lamanya gejala gangguan jiwa subyek muncul sebelum dibawa ke RSJ : kurang dari 2 minggu ( 19,4% ), 2 minggu 1 bulan ( 7,8%), 1 bulan 6 bulan ( 18,2% ), 6 bulan 1 tahun ( 13,2%), 1- 2 tahun (4,82%) lebih dari 2 tahun ( 36,5% ).

Tiga pohon di Kepuharjo Cangkringan sesudah erupsi Merapi 4 Nop 2010, foto by Inu Wicaksana - dok.pribadi

Tiga pohon di Kepuharjo Cangkringan sesudah erupsi Merapi 4 Nop 2010, foto by Inu Wicaksana - dok.pribadi

Tiga pohon di Kepuharjo Cangkringan sesudah erupsi Merapi 4 Nop 2010, foto gy Inuwicaksana - dok.pribadi

Tiga pohon di Kepuharjo Cangkringan sesudah erupsi Merapi 4 Nop 2010, foto gy Inuwicaksana - dok.pribadi

Sebelum dibawa ke RSJ, subyek dibawa : ke psikiater di luar RSJ ( 11,6% ), ke spesialis non psikiater ( 2,5 %), ke dokter umum/Puskesmas ( 9,5 % ), ke psikolog (5,9 %), ke mantri/perawat (22,5 % ), ke dukun/orang pintar/lain-lain (15,5%), ke Pemuka Agama (32,4%).

Dibawa ke tempat tersebut diatas, setelah berapa lama gejala gangguan jiwa subyek muncul : kurang dari 2 minggu (58,9 %), 2 minggu 1 bulan ( 13,6 %), 1 6 bulan (14,9 %), 6 bulan 1 tahun (4,4 % ), 1 2 tahun (1,9%), lebih dari 2 tahun 6,3%..
Alasan subyek dan keluarganya tidak langsung ke RSJ ketika gejala gangguan jiwa trimbul pada subyek : tidak tahu ( 55,2% ), tidak ada biaya ( 9,7% ), perilaku subyek tidak mengganggu (13% ), malu ( 0,8%), lokasi jauh ( 2,3%), alasan lebih dari satu ( 12,3%), dan lain-lain ( 5,9% ).

Penyebab timbulnya gangguan jiwa pada subyek menurut subyek dan keluarganya : masalah psikis / kejiwaan / pikiran ( 50,3%), masalah fisik (panas, pusing, kejang, dll) (19,1%), masalah pekerjaan ( 4,7% ), masalah rumah tangga ( 5,3% ), keturunan ( 3,2%), dan supranatural ( 11%).


TAGS


-

Author

Follow Me