THE JOKER, VIOLANCE MURDERED ON THE AURORA CINEMA THEATRE

27 Jul 2012

Dunia digemparkan dengan berita mengerikan. Seorang pemuda, mahasiswa kedokteran yang cemerlang, tanpa sebab apapun telah memberondong secara liar dengan senapan serbu AR15, satu senapan berburu, dan satu pistol Glock kaliber 40, pada para penonton film perdana Batman, The Dark Knight Rises, di Geung Bioskop Century 16 di Aurora, Colorado, Amerika Serikat. Sebanyak 12 orang tewas dan 58 orang lainnya luka-luka berat. Sebelumnya sang penembak melemparkan 2 bom berasap, dan ia memakai rompi anti peluru.

Pelaku James Eagan Holmes, 24 tahun, mahasiswa kedokteran yang cemerlang dan sedang studi bidang syaraf, peserta program doktoral University of Colorado School of Medicine, ditangkapdi parkiran bioskop. Ia mengecat rambutnya warna kuning dan mengaku diri sebagai The Joker, musuh Batman di serial sebelumnya.

Pemuda itu merencanakan aksinya ini selama 2 bulan. Pulisi mendapatkan ada 50 kiriman paket pesanan Joker itu yang isinya semua bahan-bahan peledak dan mesiu. Kamar apartemennya penuh jaringan kawat-kawat, toples-toples penuh mesiu, dan mortir. Semuanya itu jebakan maut bagi para pulisi yang akan masuk menyelidiki setelah penembakan brutal itu. Berita selanjutnya adalah bahwa anakmuda itu seorang mahasiswa yang cerdas, tapi penyendiri dan agak tertutup tanpa ada catatan riwayat kriminal sebelumnya.

Holmes, pelaku penembakan brutal di gedung bioskop Cinema 16 di Aurora, Colorado, AS, yang menewaskan 12 org dan 58 org luka2 berat. Ia mengaku sebagai The Joker, musuh Batman - repro KR Minggu, 22 Juli 2012.

Holmes, pelaku penembakan brutal di gedung bioskop Cinema 16 di Aurora, Colorado, AS, yang menewaskan 12 org dan 58 org luka2 berat. Ia mengaku sebagai The Joker, musuh Batman - repro KR Minggu, 22 Juli 2012.


Saya menerima beberapa telpon dari teman-teman dekat diluar medis yang menanyakan apakah orang seperti itu masih bisa dibilang normal, dan bila tidak gangguan jiwa macam apakah yang dideritanya. Ada baiknya saya catat saja asumsi dan perkiraan saya di kolom ini untuk para pembaca sekalian. Saya tidak sempat berdiskusi dengan teman-teman saya sesama psikiater maupun psikolog, jadi catatan ini benar-benar dari analisa jarak jauh, dugaan-dugaan atau asumsi saya sendiri yang hanya mengikuti berita ini lewat koran-koran.

Bila pemuda itu normal alias sehat mental, maka merias diri dan mengecat rambutnya dan mengaku sebagai The Joker adalah tindakan main-main, sekedar “action”, untuk gagah-gagahan. Alangkah mengerikannya karena tindakan permainannya itu benar-benar membunuh 12 orang dan melukai banyak orang. Ia juga tidak dalam keadaan mabuk. Manusia normal macam apakah yang bisa melakukan hal itu? Mungkin hal itu sama juga dengan tindakan bunuh diri. Dibutuhkan “status mental” tertentu seseorang bisa melakukan hal itu. Dan “status mental” tertentu ituyang paling dekat adalah kepribadian antisosial (dissosial) yang dulu disebut psikopat. Atau suatu depresi berat terselubung. Hingga ia yang nampaknya “normal” dan baik-baik saja bisa meledak bila mengalami tekanan tertentu. Depresi itu akan meledak debagai depresi agitasi yang berbahaya. Ini bisa di deteksi dengan tes-tes mental dan kepribadian semacam MMPI.

Bila status “mental tertentu” itu kepribadian antisosial, maka berarti sudah suatu gangguan kepribadian antisosial alias psikopat. Baik pada individu normal (dengan status mental tertentu) maupun psikopat memang senang merencanakan tindakannya dengan sangat terperinci dan sistematis lama sebelumnya untuk “tujuan gilanya”. Ingat kasus kanibal di Banyumas beberapa tahun lalu, dimana sang kanibal itu sering membujuki anak-anak retardasi mental, diberi hadiah dan dibawa ke suatu tempat dan akhirnya anak-anak itu hilang.

Ciri-ciri pokok individu dengan gangguan kepribadian antisosial (psikopat) adalah suka berbohong atau menipu, sama sekali tak punya rasa bersalah, tidak perduli dan suka melanggar norma-norma hukum dan sosial, tak peduli dengan kerugian atau menyiksa orang lain, suka menyelimuti dirinya dengan khayalan fantastis seakan bisa melakukan apa saja, sering melakukan tindak kriminal, menganiaya/memperkosa/membunuh orang tanpa penyesalan dan rasa bersalah. Penelitian-penelitian lima tahun terakhir menunjukkan adanya sedikit perbedaan antara kepribadian antisosial dengan psikopat. Yaitu bahwa pada psikopat ada ragam genetik tertentu, dan adanya unsur neurobiologik tertentu di otaknya.

Jadi menjadi psikopat tak hanya faktor pengasuhan atau lingkungan, tapi dilahirkan. Mereka ini dilahirkan di dunia dengan jumlah yang lebih banyak dari jumlah polisi di dunia ini. Jadi memang dilahirkan untuk mengacaukan dunia. Karena itu meski ini suatu “gangguan” atau “kelainan”, berarti suatu “disorder”. Tapi tidak kebal hukum seperti psikotik. Dulu di Amerika hukumannya kursi listrik. Dengan banyaknya protes tentang HAM, beberapa negara menghapus hukuman ini. Di Indonesia masih diberlakukan, misalnya untuk para pengebom di Bali beberapa waktu lalu itu.

Pada kasus diatas, bila individu itu seorang dengan gangguan kepribadian antisosial, mengaku sebagai The Joker dengan mengecat rambut adalah tindakan untuk mengelabui publik dan pulisi supaya ia dianggap gila dn terbebas dari hukuman. Ia juga telah merencanakan untuk menghancurkan tubuh semua polisi yang masuk ke kamar apartemennya yang telah dipenuhi bahan-bahan peledak dan jaringan kabel jebakan. Tak peduli dengan tetangga-tetangganya di apartemen dan apartemen sebelahnya yang akan ikut hancur. Masalahnya, pada pemuda itu tak ada catatan kriminal sebelumnya. Kalau ia psikopat. Pasti sebelumnya telah sering melakukan tindakan yang merugikan orang lain. Nah, inilah sulitnya.

Namun bila “menjadi The Joker” itu benar-benar dihayati, Joker yang harus balas dendam pada dunia karena mulutnya yang disobek kekiri dan kanan waktu kecil, merasa punya kekuasaan untuk menghukum banyak orang tak bersalah dengan membunuhnya, maka ia menderita skizofrenia paranoid. Gangguan psikotik lain yang juga dengan waham kebesaran adalah gangguan bipolar dan gangguan waham menetap. Tapi biasanya tak sampai membunuh orang. Pada skizofrenia paranoid, waham kebesaran itu sudah bertaraf magic mistic, merasa diri sebagai Yang Maha Kuasa.

Masalahnya, pada skizofrenia, individu akan sulit untuk to organize, merancang atau mempersiapkan sesuatu. Keuali dalam film-film. Misalnya Prof Hannibal (Anthony Hopkins) yang membunuh dan memakan korban-korbannya dalam film Silent of The Lamb dan Hannibal, tapi itu dalam film yang memang mendramatisir, meski jelas sudah berkonsultasi dengan banyak psikiater dalam pembuatannya. Nah, jadi kita tunggu saja hasil pemeriksaan para psikiater dan psikolog di Colorado, yang pasti akan sangat cermat, teliti dan penuh pertimbangan. Bila ia terbukti skizofrenia paranoid, ia tidak akan dihukum, tapi dimasukkan Mental Hospital (RSJ). Mungkin untuk selamanya. Tapi untuk itu, bukankah seharusnya sebelumnya sudah ada tingkah lakunya yang aneh-aneh? ****www.inuwicaksana.com.


TAGS


-

Author

Follow Me