METILON TURUNAN KATINON SEBAGAI EKSTASI BARU

9 Feb 2013

Syahdan di tahun 1995, para polisi sempat tergagap menjerat para tersangka pil-pil aneh, keras, warna warni, dengan kadar dan takaran miligram tak jelas, yang diedarkan di tempat-tempat hiburan malam. Itulah pertama kali ekstasi atau metildioksimetamfetamin (MDMA) pertama kali terungkap.Hakim akhirnya menghukum para pelaku Undang Undang Kesehatan. Setelah muncul nama si ratu ekstasi Zarima. Dari peristiwa itu, lahir Undang Undang Psikotropika pada 1997.

Tahun 1996 2000 an adalah booming nya heroin atau putauw. Kokain hanya sedikit di Jakarta dan Bali karena harganya sangat tinggi. Morfin tidak ngetrend lagi. Banyak anak muda, rata-rata mahasiswa yang memakai putauw ini dengan cara di drug ataupun disuntikkan intravena, skedar supaya modern dan diterima kelompoknya. Atau sebgai gaya hidup yang mirip artis-artis idola mereka. Inilah tahun-tahun yang amat merepotkan praktek saya. Semula saya mengikuti teman saya Dr. Al Bachri SpKJ dan Dr.Sudirman SpKJ di RSKO Jakrta, mendetoks mereka dengan kodein dosis tinggi. Dengan lahirnya Metadon dan Bufrenorfin (Subutex dan Subuxon) di tahun 2002 sebagai terapi rumatan, sayapun menggunakan obat-obat ini untuk mengobati gejala sakau mereka dilanjutkan rehabilitasi di panti.

Tahun 2002 kembali Indonesia digemparkan oleh seorang pemuda yang meninggal misterius di lantai tengah rumah seorang artis sinetron wanita di Jakarta. Pemuda itu sedang tidur di ruang tengah ketika malam hari artis wanita itu pergi dijemput temannya laki-laki. Ketika artis itu pulang dini hari, pemuda itu sudah terbujur kaku.. Dalam otopsi bedah jenazah dilambung pemuda itu didapatkan beberapa zat, antara lain amfetamin. Amfetamin adalah bahan dasar obat untuk memberikan kesegaran, mencegah ngantuk, ketahanan fisik dan pelangsing. Sejak itu ketahuan bahwa zat ini bisa dibentuk menjadi zat psikostimulan dahsyat yang sangat adiktif yang disebut sabu.

Lukisan karya Haris Purnomo : Joko Tarub dengan 5 Bidadari - ART/JOG/12 Festival di Taman Budaya Jogyakarta, Juli 2012 - dok.pribadi.

Lukisan karya Haris Purnomo : Joko Tarub dengan 5 Bidadari - ART/JOG/12 Festival di Taman Budaya Jogyakarta, Juli 2012 - dok.pribadi.


Awal tahun 2013 bisa dicatat sebagai sejarah. Penggerebegan BNN terhadap 17 orang muda artis dan selebritas yang dicibir banyak orang sebagai kerja polisi tingkat kecamatan karena hanya memperoleh 14 kapsul berisi bubuk MDMA jenis baru dan dua linting ganja, sesungguhnya secara kualitatif bisa menjadi tonggak sejarah bagi pemberantasan narkoba. Karena membukakan fakta bahwa zat golongan amfetamin bisa dimodifikasi struktur kimianya menjadi zat bentuk lain yang efeknya sama bahkan lebih kuat dari ekstasi (MDMA). Dalam pemeriksaan urin yang kedua pada sang artis, baru zat turunan modifikasi itu terdeteksi. Pemeriksan urin pertama, adalah pemeriksaan standard umum napza seperti yang dikerjakan laboratorium RS atau lab-lab swasta. Memang hanya reagensia untuk pemeriksaan urin, untuk darah belum tersedia. Pemeriksaan standard itu meliputi 5 glongan napza, yaitu (1) Opiat untuk deteksi heroin, morfin, kokain; (2) Amfetamin untuk deteksi sabu dan ekstasi; (3) Cannabis untuk deteksi ganja; (4) Benzodiazepin untuk deteksi segala jenis pil koplo; dan (5) Alkohol. Katinon dan Metilon tidak bisa nampak dengan pemeriksaan standard ini.

Laboratorium BNN, dan Laboratorium Daerah di Propinsi, mempunyai reagensia-reagensia tambahan yang lengkap untuk menampilkan gradasi warna dari suatu struktur molekul zat. Jadi pada pemeriksaan urine kedua, reagensia ini dipergunakan dan munculah katinon dan metilon. Selain itu, untuk pemakaian yang telah lama, rambut juga bisa diperiksa.

Dua orang dari selebritas yang digrebeg itu dalam pemeriksaan urine kedua terindikasi memakai derivat (turunan) dari katinon, yaitu 3,4 metilenedioksi N metilkatinon. Zat sintetis ini juga disebut sebagai metilon. Katinon, atau S alfa aminopropiofenon merupakan zat yang konfigurasi kimia dan efeknya mirip dengan amfetamin, yang sudah dikenal kemasannya di pasaran adalah sabu dan ekstasi.

Secara alami katinon terkandung dalam daun khat (Catha edulis), tumbuhan semak yang yang banyak terdapat di Afrika timur dan tengah dan sebagian jazirah Arabia. Daun khat sejak dulu dikonsumsi dengan cara dikunyah dengan cabang-cabang daunnya yang masih hijau mentah-mentah, dibuat jus, atau diseduh seperti teh oleh penduduk tradisionil di wilayah itu.

Berita penggerebegan dengan diketemukannya ekstasi jenis baru dalam daun khat ini menjadikan masyarakat waspada dengan lingkungan sekelilingnya dan laporlah mereka pada polisi. Maka diketemukan kebun tanaman khat 2 hektar di Cisarua, Bogor, Jawa Barat, dan di dusun Munggangsari, Kecamatan Baturraden, kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Setelah sampel tanaman diperiksa di Laboratorium Forensik Cabaang Semarang positif mengandung katinon yang terdaftar sebagai narkotika, lahan-lahan tersebut dibakar polisi. Lahan tersebut disewa oleh seseorang keturunan Arab, dan ditanami tanaman khat yang dibikin teh Arab. Konon bisa menyembuhkan penyakit gula dan menurunkan kolesterol.

Dibanyak negara, khat bukan bahan terlarang meski penggunaannya dikontrol beberapa negara Eropa. Katinon dimasukkan sebagai golongan 1 Konvensi PBB untuk Zat-zat Psikotropika tahun 1971. Di Indonesia, katinon masuk sebagai narkotika golongan satu dalam Undang Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, nomor urut 35 dalam lampiran Undang Undang itu. Metilon sebagai derivat katinon secara eksplisit memang belum tercantum dalam Undang-Undang itu, karena waktu UU disusun zat sintetis ini belum dibuat. Tapi secara akal sehat tentunya hal ini termasuk juga, disamakan dengan katinon.

Metilon, sebagai turunan dari katinon sintetis, sangat mirip dengan ekstasi (MDMA). Sedikit perbedaan hanya pada gugusan belakang konfigurasi struktur kimianya. Bila ekstasi (MetilDioksiMetamfetamin) gugusan belakangnya adalah amfetamin, maka metilon (MetilenDioksiMetilKatinon) gugusan belakangnya adalah katinon. Efek kedua zat ini sama bahkan dikatakan metilon lebih dahsyat..

Ekstasi (MDMA) adalah zat adiktif yang merupakan psikostimulan susunan syaraf pusat (otak). Efeknya bisa menimbulkan rasa segar, gairah, gembira bertaraf euforia yang bisa sampai ekstase. Zat berbentuk tablet keras ini dipakai dengan cara diminum dengan aqua yang tersedia di diskotik-diskotik. Biasanya dengan mendengarkan house music bertempo ritme tinggi karena dibelakang musik itu ada musik lain yang lebih indah yang hanya bisa dinikmati dengan menenggak MDMA itu. Karena itu termasuh party drug, beda dengan heroin yang dinikmati dengan menyendiri dalam suasana sepi di kamar. Ekstasi dipakai oleh orang-orang kalangan atas yang sudah bosan dengan berbagai kesenangan dan kegembiraan, dan ingin suatu kegembiraan yang lebih tinggi lagi yang bisa dicapai dengan menenggak MDMA ini.

Ekstasi bisa meningkatkan kadar neurotransmiter serotonin sekaligus dopamin sehingga menimbulkan kegembiraan luar biasa bertaraf ekstase, tapi sekaligus juga dengan ilusi warna warni dan halusinasi penglihatan dan pendengaran yang indah-indah menakjubkan. MDMA ini bisa menggairahkan seks, tapi kenikmatan memakai ekstasi sudah melebihi orgasme sehingga biasanya para pemakainya yang lagi tripping sudah ogah atau tak terpikir untuk melakukan hubungan seksual. Para penggunanya biasa pindah-pindah tempat hiburan malam bila efek ekstasi menurun, lalu menenggak lagi dengan aqua sampai pagi. Penuturan pasien-pasien saya, laki-laki bisa kuat 4 tablet ekstasi semalam, sedang wanita baru 2 tablet biasanya sudah jatuh menggelepar dan dibawa ke UGD RS dini hari. Semua efek MDMA ini terdapat pada metilon bahkan dikatakan lebih kuat lagi.

Dampak buruk ekstasi bagi fisik dan mental, tentunya metilon lebih buruk lagi, adalah tekanan darah meningkat tinggi sampai stroke, geraham gemeretak, depresi berat dan rasa hampa pagi harinya sampai ingin bunuh diri, anoreksia, sulit tidur, halusinasi-halusinasi mengerikan esok paginya, dan gangguan irama jantung. Kematian terbanyak karena aritmia kordis ini. Bedanya dengan heroin, bila heroin harus dipakai tiap hari beberapa kali suntik, sedang ekstasi seperti juga sabu bisa beberapa hari sekali, bahkan seminggu sekali.

Dr Al Bachri Husein SpKJ, pakar napza Indonesia, di Jakarta sejak tiga atau empat tahun lalu ia sudah menangani gejala klinis dari katinon. Artinya zat itu sudah beberapa tahun ada di Indonesia. Tapi khusus metilon, gejala klinisnya belum sampai ke tangan medis sampai saat ini. Berarti zat ini benar-benar baru dan pemakainya belum banyak, atau belum ada yang mengalami gejala putus zat atau intoksikasi sampai overdosis dan sampai ketangan medis. Dampak terburuk bagi mental, selain depresi berat dan bunuh diri, adalah terjadinya gangguan psikotik (gangguan jiwa berat) akibat meningkatnya neurotransmiter dopamin hingga terjadi gangguan jiwa permanen seperti pasien-pasien di RSJ.

Menanggulangi dampak buruk ekstasi dan metilon tentunya dengan obat-obat psikotropik anticemas, antidepresan dan antipsikotik dengan jenis dan dosis yang tepat, yang harus dikombinasi dengan psikoterapi perilaku model Motivational Enhancement Therapy (MET). Yaitu terapi yang membangkitkan niat, kemauan, semangat pecandu sendiri untuk berhenti dan sembuh. Bisa dilanjutkan dengan Cognitive Behaviour Therapy (CBT) di panti-panti rehabilitasi. Sayangnya sebagian besar pecandu ogah masuk panti. Mereka baru mau masuk bila ketangkap polisi, atau diputuskan pengadilan untuk masuk panti rehabilitasi. Karena itu banyak panti-panti yang didirikan, bahkan gratis pula, kososng berbulan-bulan sampai akhirnya gulung tikar.****(twitter@Inu Wicaksana).


TAGS


-

Author

Follow Me