Just for to day, Iam happy

1 Mar 2013

Apakah benar pikiran yang mempengaruhi emosi saya, kegembiraan atau kesedihan saya sekeluarga. Kalau saya berpikir saya ini termasuk beruntung maka gembiralah saya. Tapi bila saya bilang saya ini celaka dua belas, susah dan hancurlah hati saya, dan ini mempengaruhi istri dan anak-anak saya. Semua susah. Tapi bagaimana, bila saya benar-benar bangkrut, saya bisa berpikir bahwa saya beruntung? Bukankah itu menipu diri dan hati saya pasti tahu itu, saya tak akan bahagia, demikian tulis AR, seorang pengusaha muda caunter HP pada KR Minggu.
Ia sudah 3 tahun membuka counter HP di Jogya bagian selatan. Tahun pertama sukses. Tahun kedua mulai banyak saingan, terutama saingan dengan modal besar yang menyewa tempat di sentral-sentral HPMaka konsumen lebih suka menyerbu kesana. Ditambah lagi anak-anak buah kepercayaannya pada keluar dan pindah ke caunter-caunter besar itu. Bangkrutlah dia. Terpaksa ganti usaha lain. Rumah makan masakan tradisional dengan aneka sambal. Ini lumayan berkembang, tapi hatinya tak pernah merasa senang. Ia merasa usahanya berjalan lambat. Tak punya masa depan. Ia mengalami anhedonia, tak bisa merasa senang, tak ada minat dalam semua aktivitas waktu senggang, muncul bermacam-macam keluhan fisik yang tak ada bukti laboratoris kelainannya. Ia mengalami depresi taraf sedang. Ia menulis ke KR Minggu dan saya menjawabnya dalam rubrik ini.

***********
Secara psikologis perilaku manusia itu mempunyai tiga komponen utama, kognitif, afektif, dan psikomotor.. Ki Hajar Dewantara yang mempelajari kedokteran dan psikologi di negeri Belanda menterjemahkannya dengan sangat bagus, Cipta, Rasa, dan Karsa. Kognitif adalah fungsi pikiran, tentu saja otak. Bila anda bangun pagi dan berpikir : i : just for to day, Iam happy maka akan berbahagialah anda sehari itu. Besok paginya, entah. Bila anda mengalami kebangkrutan, atau main saham dan sahamnya amblas dibawa lari orang, anda bisa mengatakan just for to day, aku ikhlas maka seharian itu anda akan merasakan keichlasan.

Prinsip macam inilah yang dipraktekkan di panti-panti rehabilitasi adiksi narkoba yang memakai CBT (cognitive-behaviour therapy) dalam acara coffe-morning nya. Setiap pecandu setiap pagi dalam acara itu harus memprogram otaknya dengan satu falsafah hidup, just for to daySaya akan berkata jujur. Maka sehari itu afektif dan psikomotornya otomatis akan melakukan itu. Esok paginya otaknya diprogram dengan satu falsafah hidup lagi. Boleh sama atau berbeda. Demikian seterusnya.

Pikiran bisa mempengaruhi perasaan dan gerak hidup kita. Ininal prinsip mendasar Mind Sciences. Secara aneh, kita bahkan membaca atau melihat di TV, pikiran manusia bisa mengontrol dan menggerakkan benda-benda. Itu masih sukar dibuktikan, tapi kadang kita harus mempercayainya. Yang jelas, pikiran dan persepsi dapat secara dramatis mempengaruhi suasana hati, perasaan, dan emosi. Bila di malam hari, di jalanan yang sepi, a melihat bayangan manusia tinggi besar dan hitam mendekati tanpa suara, pikiran dan persepsi kita segera mengatakan : perampok!, maka paniklah kita. Kita ketakutan dan berlari sekencang-kencangnya. Padahal setelah mendekat, orang besar itu mengacungkan tangannya. Ternyata hanya pengemis bisu yang minta uang untuk makan.

Ibu saya almarhum dulu melarang saya untuk bilang : aduh celaka, wah, sial banget, atau aduh, sengsara aku, supaya saya tidak benar-benar mengalami celaka, kesialan, atau kesengsaraan. Entah kenapa, saya mentaatinya sampai kini. Kita seakan menganggap kejadian eksternal memiliki control langsung atas suasana hati kita. Padahal kenyataannya adalah, bukan kejadian itu yang membangkitkan emosi kita, namun apa yang kita pikirkan tentang kejadian itulah yang menentukan perasaan kita.

Misalnya, banyak orang merasa jengkel, sebel, tidak senang melihat wajah Pak Susno di TV atau Koran dulu ketika kasus cicak vs buaya muncul. Ini karena pikiran dan persepsi negatif yang terbentuk waktu itu. Beberapa bulan kemudian banyak orang justru senang melihat beliau di TV atau Koran membuka markus-markus tingkat tinggi itu. Dan mungkin justru bersimpati ketika melihat beliau ditangkap di bandara. Ini karena persepsi telah berubah, mungkin mengatakan beliau itu pahlawan. Pikiran dan persepsi manusia sangat dinamis. Cepat berubah. Demikian pula emosi dan alam perasaan, mengikutinya.

Reaksi sentakan emosional terhadap rangsangan eksternal adalah efek kombinasi dari kejadian eksternal dan interpretasi kita terhadap kejadian itu. Ini adalah hubungan kognitif, yaitu mata rantai yang akan menghubungkan berbagai kejadian dan emosi dalam rantai pengalaman kita .

Konsep ini telah berumur sekurangnya 2000 tahun dan sering dikaitkan dengan filosofi Epictetus, yang berkata. manusia merasa terganggu bukan karena suatu hal, tetapi justru oleh sudut pandangnya sendiri. Berabad-abad kemudian, William Shakespeare mengungkapkan kembali konsep ini dalam Hamlet, Tidak ada hal baik atau buruk, hanya pikiran kitalah yang membuatnya seperti itu.

Pada kenyataannya kita memiliki kontrol yang hebat terhadap emosi dan kita bukanlah makhluk stimulus-respons yang otomatis dan tak berdaya. Kita bisa menunda, mempertimbangkan respons kita, yang artinya kita memiliki kuasa atas suasana hati kita sendiri. Bahkan kitapun bisa mempengaruhi suasana hati orang-orang lain disekitar kita, atau yang dekat dengan hati kita.

Menyadari bahwa pikiran mempengaruhi emosi dan suasana hati adalah langkah yang paling penting menuju hidup yang lebih sehat dan bahagia. Pikiran negatif dapat ditolak dan diubah, menjadi pikiran, emosi dan perasaan yang positif.
Nah, jadi mengapa anda tidak mengatakan esok pagi : Just for to day, aku akan bersemangat dan tersenyum melayani pembeli, maka anda sekeluargapun akan bersemangat melayani konsumen rumah makan anda. Dan esoknya, di hari Minggu pagi mengapa anda tidak mengatakan : Just for to day, saya akan bergembira berekreasi dengan keluarga ke Desa Wisata dekat rumah Mbah Marijan? Siapa tahu anda akan terimbas oleh ketabahan, ketangguhan, semangat, dan keperkasaan penjaga Merapi yang mashur itu?***
twitter@inuwicaksana.


TAGS


-

Author

Follow Me