PSIKOTERAPI DAN PERUBAHAN PERILAKU

1 Jul 2013

Psikoterapi adalah terapi kejiwaan dalam bentuk wawancara tatap muka antara terapis dan pasien yang telah berusia hampir seabad lamanya. Diciptakan oleh bapak psikoanalisa dunia, Sigmund Freud. Pertama kali dalam bentuk klasik, psikoterapi yang berorientasi pada psikoanalisa, dengan teknik asosiasi bebas, dengan pasien duduk selonjor pada sofa dan psikiater duduk di kursi sampingnya, menanyai berulangkali dan mencatat apa saja yang dikatakan pasien.

Dalam perkembangannya psikoterapi psikoanalitik klasik ini mengalami perubahan banyak bentuk, oleh para ahli pengikut Freud (New Freudian) maupun yang tidak setuju dengan Freud dan mengembangkan bentuk sendiri. Namun pada prinsipnya sama, tetap berdasar pada paham psikodinamika pasien yang mengalami problem mental. Bentuk-bentuk psikoterapi sekarang sudah sangat beragam, semuanya terbentuk sesuai dengan kebutuhan pasien dan kemampuan terapis. Seperti psikoterapi Rational-emotif, Kognitif, Suportive-Expresive, Client-Centered, Brief Dynamic Psychotherapy, dll.

Namun sampai saat ini istilah psikoterapi hanya dikenal baik oleh kalangan psikiater dan psikolog. Masyarakat umum tidak begitu mengetahuinya. Masyarakat di Indonesia, kalangan intelektual tinggi mauipun rendah, hanya mengenalnya sebagai konsultasi biasa saja. Omong-omong curhat dengan terapis untuk mendapatkan sekedar saran, solusi atau nasehat. Padahal sesungguhnya psikoterapi adalah suatu tindakan medis yang berat, seperti halnya oprasi atau pembedahan. Hanya disini yang dibedah bukan organ tubuh, tapi jiwa atau mind manusia. Dan alat pembedahannya bukan pisau bedah, tapi kata-kata. Kata-kata atau kalimat yang lembut, hangat, tidak menyakiti, tapi tepat tajam untuk mengungkit segala konflik-konflik dan endapan traumatik yang tertimbun bertahun-tahun.

Karena tidak dipandang sebagai tindakan medis, maka RS-RS pun, yang mempunyai poliklinik psikiatri, tidak memberinya pola tarip tindakan. Hanya tarip pemeriksaan dokter ahli biasa. Karena itulah para psikiater juga tidak bersedia mengerjakan psikoterapi dalam arti penuh. Hanya psikoterapi suportif singkat saja ditambah obat-obat psikotropik berkhasiat anti cemas, antidepresi, anti agitasi, anti halusinasi, anti waham, anti autistik, anti insomnia dst. Dan bila obat-obat ini dihentikan, gejala mental akan muncul lagi karena akar konflik intrapsikisnya belum dicabut.

Pada hakekatnya, contoh-contoh psikoterapi psikodinamik yang saya sebut diatas, termasuk juga psikoterapi klasik gaya Freud, bertujuan untuk mere-edukasi dan merekonstruksi kepribadian manusia. Mere-edukasi mungkin masih bisa dicapai. Tapi merekonstruksi, ini suatu hal yang sangat pelik. Membutuhkan waktu bertahun-tahun. Membedah pola pikir dan perilaku yang telah menetap sejak remaja, untuk menyusun yang baru yang lebih matang (matur). Karena butuh waktu lama, session berulangkali, dan pasienpun tidak mau membayar sebagai tindakan medis, maka para psikiater di Indonesia mengerjakan psikoterapi suportif singkat saja yang bertujuan : (1) meredakan ketegangan; (2) memberikan penjaminan rasa aman; (3) menghilangkan stres dan membuat bahagia; (4) mendorong untuk mandiri; dan (5) mendoromg untuk mengambil tindakan dan solusi yang matang dan bertanggungjawab pada diri sendiri maupun orang lain. Jadi tujuan psikoterapi sederhana ini lebih praktis, murah, to the point, dan pada prinsipnya sama dengan psikoterapi klasik, mere-edukasi orang untuk berubah ke perilaku yang lebih matang dan bertanggungjawab. Tapi mengapa kebanyakan manusia sukar sekali untuk berubah?

Mengapa banyak orang gagal mendapat pertolongan atau mengalami perubahan bahkan setelah menjalani psikoterapi bertahun-tahun? Banyak orang percaya bahwa tujuan dari terapi adalah untuk membicarakan masalah, bukan memanfaatkannya untuk mencari alat guna memecahkan masalah.

Bukan bicara yang penting, melainkan tindakan. Ya, tapi tindakan yang baik, tepat dan bermanfaat, harus dibicarakan dulu dengan jujur. Untuk ini hubungan terapis dan pasien harus benar-benar baik, tidak diliputi kecurigaan. Sangat penting bagi individu untuk merasa nyaman dengan terapis dan percaya padanya.

Jika kita percaya terapis dapat dapat menenangkan hati kita, dan kita keluar dari sesi terapi dengan perasaan yang lebih baik karena perkataan si terapis, masuk akal bila kita akan membuat kemajuan yang lebih pesat.Ada banyak orang yang tidak bahagia dan nampak menderita, tetapi mereka tidak dapat melihat masalah mereka sendiri, atau bahwa sesungguhnya mereka punya masalah. Untuk memunculkan perubahan yang konstruktif, kita perlu mengidentifikasi masalah secara spesifik dan menerima adanya kemungkinan penanggulangan masalah itu. Banyak orang menyatakan diri mereka bermasalah, tetapi mereka merasa memang begitulah keadaan mereka itu sehingga tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengubahnya.

Untuk menciptakan perubahan diri sendiri, harus ada keinginan untuk berubah. Banyak orang menyatakan diri mereka memiliki masalah dan mereka mengetahui adanya kemungkinan untuk berubah, tetapi mereka sendiri tidak tertarik untuk melakukan perubahan. Kenyataan ini seperti bentuk lain proses belajar dan perkembangannya.

Perkembangan psikologis dan pendidikan ulang emosi butuh partisipasi aktif dari mereka yang belajar. Psikoterapi modern adalah aktivitas yang berdasar pada pembelajaran. Jika kita menghilangkan kebiasaan buruk dan mendapat pola baru yang lebih menolong, rasanya seperti mendapatkan keterampilan lain.

Pertumbuhan dan perubahan butuh usaha dan latihan. Cara kuno seperti berbaring di sofa dan berbicara dengan asosiasi bebas telah diganti dengan yang lebih praktis dan singkat, yaitu memeriksa masalah yang nampak dan menemukan solusi yang spesifik. Dengan wawancara psikoterapii individu seakan menebarkan semua konflik internal, problem inti (nucleus feeling), dan endapan traumatiknya diatas meja atau papan catur sehingga bisa dilihatnya sendiri bersama terapis. Dengan kontrol dan pengawasan terapis, individu akan merubah perilakunya sendiri atau memilih tindakannya sendiri yang matang dan bertanggungjawab, dengan latihan diantara sesi-sesi terapi. Bila individu datang untuk terapi hanya untuk bicara, tanpa kesediaan untuk mengerjakan latihan bertindak dan berespons di rumah di antara sesi-sesi terapi, perubahan hampir tidak mungkin terjadi.****
www.inuwicaksana.com ; Lukisan twitter @inuwicaksana.


TAGS


-

Author

Follow Me