• 9

    May

    PIKIRAN DAN SIKAP MENTAL MEMBENTUK DIRI KITA

    Seorang pria muda, 35 tahunan, menulis ke rubrik kita ini, mengapa ia tidak bisa bahagia seperti orang-orang lain yang mempunyai hal-hal dan keadaan sama seperti dia? Ia pegawai dari Kalimantan yang sudah lulus studi S2 dengan cum laude di Yogya. Mengapa ia tidak bisa bahagia, sedang teman-temannya yang lulus pas-pasan bahkan harus mengulang ujian bisa bergembira setengah mati? Ia mendapat hadiah sejumlah uang dari ayahnya yang kaya yang cukup untuk membeli sebuah mobil yang mewah, mengapa ia tidak bahagia sedang teman-temannya mendapat kenaikan gaji PNS 10% saja berjingkrak-jingkrak gembira? Ia mempunyai istri yang baik dan setia, sarjana pula, mampu memelihara dua anaknya yang manis, mengapa ia tidak bisa bahagia sedang temannya yang keluarganya berantakan masih bisa gembira setiap hari?
  • 17

    Jul

    AKU INGIN PULANG (2)

    Tiga puluh tahun telah berlalu. Kini aku bekerja sebagai psikiater -sudah 19 tahun ini- di sebuah rumah sakit jiwa besar dan kuna peninggalan Belanda di tlatah Borobudur. Dengan adanya program Jamkesmas pemerintah, pasien-pasien psikotik jenis skizofrenia meningkat drastis jumlahnya yang bisa dilayani. Prevalensi gangguan ini yang semula 1 permil menjadi 1%. Bukan karena jumlah penyakit yang muncul bertambah banyak, tapi karena yang semula tidak bisa mendapat pelayanan kesehatan jiwa, tak terdeteksi, dibiarkan menggelandang atau diam-diam dipasung, sekarang bisa mendapat perawatan dan pengobatan di RSJ-RSJ seluruh Indonesia. Jumlah pasien di RSJ ku yang semula tak lebih dari 350 orang menjadi 800 dan bahkan lebih dari itu. Karena adanya instruksi Menkes dilarang menolak pasien miskin
  • 21

    Mar

    ANTARA AYAH DAN ANAK LELAKINYA

    Saya seorang bapak, 38 tahun, PNS, mempunyai 3 anak, ingin mengkonsultasikan anak saya yang sulung, laki-laki , 17 tahun, klas II SMU yang sangat sukar diatur. Anak saya ini kecanduan game atau play-station sehingga sering mbolos sekolah. Tahun lalu ia terpaksa dikeluarkan oleh SMU nya karena tidak mau ikut ulangan-ulangan harian dan ujian kenaikan, lalu saya carikan SMU lain yang mau menerima dia karena katanya ia masih mau belajar. Ternyata di SMU yang baru ini sama saja perilakunya, malah lebih parah. Sering tidak masuk sekolah, dan terlibat perkelahian antar sekolah meski hanya ikut-ikutan saja.. Ia tidak mempunyai catatan, tidak mengerjakan pekerjaan rumah sehingga sering dipanggil d dimaahi gurunya, tapi ia cuek-cuek saja. Guru Bimbingan Konseling sudah tidak digubris lagi, dan
-

Author

Follow Me